Sejak Provinsi Sumatera Utara sah menjadi pemerintahan administratif di Indonesia pada tahun 1948, wilayah ini telah banyak memberikan kontribusi bagi negara. Dari masa ke masa, perkebunan di wilayah Sumatera Utara memegang peranan penting dalam perkembangan di daerah maupun nasional. Terhitung sejak masa kolonial hingga kini, perkebunan telah menjadi tulang punggung yang menopang ekonomi di wilayah Sumatera Utara.

Pada masa sulit sekalipun, perkebunan tetap menjadi sektor unggulan dari wilayah ini. Seperti saat Belanda ingin berkuasa kembali di Indonesia pasca kekalahan Jepang di Perang Dunia II.  Saat itu aktivitas Belanda di kota Medan berdiri lebih cepat dan giat, jika dibanding dengan daerah lain di Jawa maupun Sumatera. Lantaran Sumatera Timur memiliki potensi ekonomi yang kaya hasil bumi dan perkebunan.

Maka, Belanda bersama NICA merasa perlu memblokade ekonomi Indonesia di Sumatera Timur. Ichwan Azhari, sejarawan Universitas Negeri Medan, mengatakan saat itu tidak ada daerah lain yang kaya seperti Sumatera Utara. “Itu disebabkan warisan perkebunan Sumatera Utara yang luar biasa,” kata Ichwan tersenyum.

Guna merespon itu, pemerintah melakukan beberapa strategi untuk mematahkan blokade ekonomi Belanda. Salah satunya menjadikan Pantai Timur Sumatera Utara sebagai pusat penerobosan blokade. Menurut Ichwan, saat itu Pelabuhan Belawan diblokade, maka barang ekspor diselundupkan melalui jalan-jalan tikus yang nantinya dilanjutkan menuju Penang dan Singapura.

Sejak masa kolonial, wilayah tersebut dikenal sebagai wilayah dengan jaringan ekonomi yang kuat. Untuk urusan ini, pemerintah Indonesia merasa perlu membentuk badan perwakilan resmi Indonesia di Singapura dengan nama Indonesia Office.

Hasilnya, Sumatera Utara mengalami surplus, saat daerah lain mengalami kesulitan ekonomi. Hingga tahun 1946 hasil perkebunan Sumatera yang berhasil diselundupkan nilainya mencapai 20 juta dollar Straits Settlements. Bandingkan dengan Jawa yang hanya menghasilkan 1 Juta Dollar Straits Settlements.

Sedangkan barang impor yang masuk sebesar 3 juta Dollar Straits, termasuk komoditi rokok, minuman botol, makanan kaleng dan lainnya. Barang-barang tersebut mengalir ke para pejuang yang sedang berada di gunung. “Kalau di Jawa cuma makan ubi, para pejuang di sini mewah,” ungkap Ichwan.

Dari masa ke masa, hasil kebun Sumatera Utara menjadi komoditi unggulan. Dalam buku Berjuang dengan Uang Mempertahankan dan Memajukan Republik Indonesia: Semangat Juang Otoritas dan Masyarakat Sumatera Utara, yang disusun oleh Darsono, Siti Astiyah, Ichwan Azhari, Enny Tin Suryanti, tertulis, “komoditas perkebunan Sumatera Utara telah diekspor ke berbagai negara dan memberikan sumbangan devisa yang sangat besar bagi Indonesia. Sektor perkebunan merupakan salah satu pilihan pengganti migas, karena dapat menjadi sumber penghasil dan penghemat devisa,” tulis mereka.

Tak hanya itu, sektor perkebunan juga merupakan sektor terbesar penyumbang devisa di luar minyak bumi. Eskpor dari produksi perkebunan memberikan sumbangan sebesar 15 persen dari seluruh nilai ekspor non migas Indonesia. Sementara itu, Sumatera Utara memainkan peranan utama dalam ekspor perkebunan Indonesia ke pasar internasional.

Sumatera Utara merupakan salah satu daerah dengan potensi perkebunan yang besar. Lantaran wilayah ini dianugerahi dengan iklim, lahan, dan kesuburan tanah yang sesuai untuk mengembangkan potensi perkebunan dan pertanian.

Produksi perkebunan selalu menunjukan angka yang baik. Pada akhir tahun 1960 sampai awal 1990 produksi perkebunan meningkat 50,4%. Kenaikan ini terjadi karena perbaikan program pertanian pemerintah masa itu, terutama sektor perkebunan.

Bisa ditilik pada tahun 1916, produksi karet mencapai 12.000 ton. Lantas naik menjadi 44.000 ton pada tahun 1920. Begitu pula dengan produksi komoditas lain macam teh dan tembakau pada masa itu. Pun pada periode 1969-1974, dua komoditas macam karet dan sawit adalah penyumbang pemasukan terbesar Sumatera Utara. Hingga kini, perkebunan adalah potensi besar dari Sumatera Utara bagi pembangunan negara.

Kepala Dinas Perkebunan Sumatera Utara, Herawati N mengatakan, saat ini Sumatera Utara tercatat sebagai produsen sawit nomor dua terbesar di Indonesia, setelah Riau. Hal ini bisa dilihat dari luas tanaman dan produksi kelapa sawit tanaman perkebunan rakyat kabupaten/kota di Sumut.

Untuk perkebunan sawit rakyat Di Sumatera Utara, Kabupaten Asahan merupakan pusatnya. Sebanyak 18 persen dari seluruh perkebunan kelapa sawit rakyat ada di daerah ini. Sehingga Sumatera Utara menjadi pemilik lahan sawit terbesar kedua di Indonesia setelah Provinsi Riau.

Dalam perdagangan ekspor, sawit adalah komoditas yang bernilai tinggi. Banyak perusahaan perkebunan yang berinvestasi membuka lahan kelapa sawit. Banyak pula perusahaan perkebunan yang mengalihfungsi lahan menjadi kelapa sawit.

Sawit memang sektor yang punya kontribusi besar dalam hal pemasukan untuk negara, namun saat ini yang punya dampak langsung dan sedang menggairahkan menurut Herawati adalah kopi. Apalagi, permintaan kopi meningkat hampir 10 persen tiap tahunnya. Ini dikarenakan tumbuh pesatnya bisnis kopi dalam negeri.

“Saat ini kopi sedang mem-booming, di samping menjamurnya kopi shop perubahan trend yang dulunya kopi identik dengan orang tua sekarang banyak dikonsumsi anak muda. Otomatis tingkat konsumsi kopi kita di Indonesia meningkat sangat signifikan, per tahun naik sampai 10%,”katanya.

Selain kopi dan sawit, masih banyak komoditas unggulan lain dari Sumatera Utara. Antara lain, karet, kelapa, cokelat, kemenyan, tembakau dan hasil kebun lain menjadi unggulan untuk ekspor. Untuk karet, pada tahun 2013-2016, luas tanaman karet rakyat Sumatera Utara mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 0,45 persen per tahun. Kabupaten Mandailing Natal, Langkat dan Padang Lawas Utara merupakan pusat perkebunan karet rakyat di Sumut.

 

Potensi Sumut Terus Dikembangkan

Gubernur Sumatera Utara, Tengku Erry Nuradi mengatakan pertumbuhan ekonomi makro Sumatera Utara lebih tinggi dari rata-rata nasional. Sumatera Utara merupakan daerah yang memiliki banyak komoditi unggulan yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Investasi penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri yang masuk ke Sumatera Utara terus meningkat. Mulai 12 triliun hingga terakhir mencapai 20 triliun rupiah.

Investasi yang masuk tersebut memang banyak terserap ke dalam industri sawit dan sektor kebun lain. Namun, ada beberapa potensi lain yang menggiurkan bagi investor. Tengok saja sektor pariwisata, Sumatera Utara memiliki Danau Toba, danau terbesar ke-2 di Asia. Bahkan Danau Toba masuk ke dalam 10 destinasi pariwisata prioritas nasional.

Saat ini Pemprovsu sedang mengembangkan kawasan Danau Toba menjadi destinasi wisata bertaraf internasional. Pemerintah memproyeksi investasi yang masuk pada tahun 2019 sebesar 1,000 juta dollar Amerika dengan jumlah wisatawan mancanegara sebesar 1 juta orang dengan devisa yang masuk sebesar 500 juta dollar Amerika. Untuk itu, Presiden Joko Widodo memberi arahan kepada beberapa kementerian terkait agar melakukan perbaikan infrastruktur yang meliputi jalan, pelabuhan, bandara, ketersediaan listrik di daerah, dan lain sebagainya.

Danau Toba juga dijadikan wisata berbasis Geopark. Hal ini tentu saja bisa meningkatkan atau menunjang pengembangan serta peningkatan kunjungan wisata hingga mancanegara. Di dalamnya berisi nilai sejarah, nilai ilmiah dari proses pembentukan Kaldera Toba, dan hal-hal lain yang bisa dijelaskan dari Danau Toba.

Selain wisata alam, pun wisata budaya bisa jadi potensi di Sumatera Utara. Provinsi ini memiliki banyak etnis yang berpotensi jadi wisata budaya. Gubsu juga ikut mendorong agar daerah membuat event-event budaya besar, “Jika selama ini hanya even festival Danau Toba yang dikenal, mulai tahun ini kita sudah melaksanakan berbagai even diantaranya pesta budaya Pantai Timur, dan tahun depan akan ada pesta budaya Pantai Barat, pesta budaya Ya’ahowu di Nias, juga tak lupa penataan di Museum Negeri Sumut agar menjadi destinasi wisata sejarah yang baik,” kata Gubsu Erry.

Setidaknya, saat ini ada 3 even daerah provinsi Sumut yang telah masuk ke dalam kalender even nasional yang dikeluarkan oleh Kementerian Pariwisata RI. Ketiga even tersebut yakni, Pekan Raya Sumatera Utara, Festival Danau Toba, dan pesta budaya Ya’ahowu di Nias. Selanjutnya, masih ada 82 even Sumut yang bisa menjadi potensi besar.

Di sektor pertanian, Sumatera Utara juga punya potensi yang besar. Data dari BPS yang diterima oleh Gubsu pada Februari 2018 menyebut, hasil produksi beras di Sumatera Utara mengalami surplus. Gubsu mengatakan surplus ini sebagai swasembada beras terbesar sepanjang perjalanan 70 tahun Sumatera Utara.

Pun hasil tanaman palawija baik potensinya. Hasil tanaman palawija merupakan andalan ekspor Sumatera Utara ke negara seperti Singapura dan Malaysia. Badan Pusat Statistika Sumatera Utara mencatat, pada tahun 2016 Sumut berhasil memproduksi jagung sebanyak 1.557.462,8 ton.

Dari infrastruktur, Bandara Kualanamu punya prestasi yang membanggakan. Sebagai pintu masuk ke Indonesia dari barat, Bandara Kuala Namu menjadi bandara mendapat penilaian bintang 4 pada tahun 2017. Nilai itu membawa Kualanamu menjadi bandara terbaik di Indonesia 2017. Penilaian tersebut dilakukan oleh skytrax berdasarkan Airline Quality Ranking.

Di bidang listrik, kata Gubsu, daya listrik di Sumatera Utara kini surplus sejak 30 tahun terakhir. Nantinya, pembangkit listrik panas bumi akan dibangun di Tapanuli Utara. Sejak tahun lalu, Sumatera Utara dapat bantuan kapal listrik terbesar dunia, Marine Vessel Power Plant (MVPP) Onur Sultan, dari Turki.

Di bidang lain, Gubsu menambahkan, sebenarnya Sumatera Utara mengalami sebuah progress yang luar biasa. Bidang lain itu, misalnya, kawasan strategis nasional Kuala Tanjung yang merupakan kawasan industri dengan berbasis alumunium. Ini satu satunya pusat peleburan alumunium yang ada di Indonesia.

 

Beragam etnis tapi tetap Harmonis

Di setiap kesempatan, Gubsu selalu menyebut Sumatera Utara adalah provinsi berbilang kaum. Tentu saja pernyataan ini didasari karena Sumatera Utara memiliki 8 etnik lokal. Ditambah etnik pendatang dari seluruh Indonesia yang menetap.

“Kita juga berbahagia bahwa kondisi sosial politik di Sumut walaupun dengan dinamika yang cukup tinggi, tapi boleh dikatakan terkendali aman dan damai, mudah mudahan ini juga bisa terus terkondisi,” ujar Erry.

Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbang Linmas) Provinsi Sumatera Utara, Suriadi Bahar mengatakan hal serupa. Menurutnya keharmonisan di wilayah Sumut terjamin. Keragaman di Sumatera Utara bisa menyatukan kehidupan masyarakat, kata Suriadi. Kesbangpol mencatat tidak pernah ada konflik yang terkait dengan agama dan kesukuan di Sumatera Utara.

“Saya rasa daerah lain sukunya tidak sebanyak yang ada di Sumut, suku di Sumut banyak. Ada lagi pendatang. Ini bagian dari keberagaman yang memang sangat dipegang oleh masyarakat sumatera utara,” kata Suriadi.

Masyarakat Sumatera Utara kadang dipandang sebagai masyarakat yang keras. Sampai ada istilah anak Medan yang keras. Di luar Sumatera Utara, anggapan ini kuat sekali. Meski begitu, Sumatera Utara sangat aman, tambah Suriadi.

Menurutnya, Sumatera Utara bisa menahan diri walaupun ada berbagai macam isu yang terendus dari pemerintah pusat. Begitu pula isu yang terkait dengan masalah kesukuan. Sekali lagi, Suriadi menekankan, tingkat keharmonisan di Sumatera Utara cukup baik. “Keberagaman itu ada, tapi bukan berarti jadi masalah,” tutur Suriadi.

Prestasi Sumatera Utara di bidang ini sangat baik. Berdasarkan data dari Setara Institute, 5 kota dari Sumatera Utara masuk ke dalam indeks kota toleransi Indonesia 2017. Peringkat paling tinggi diperoleh Pematang Siantar dengan posisi kedua setelah Manado. Pematang Siantar mendapat skor 5,90. Kota lain Sumatera Utara yang masuk di dalam indeks tersebut adalah, Sibolga, Tebing Tinggi, Padang Sidempuan, dan Binjai. Masing masing mendapat skor di atas 5.

 

Membangun Mega Infrastruktur

Anthony Reidd dalam buku Menuju Sejarah Sumatra: Antara Indonesia dan Dunia, menulis, “Sumatra adalah sebuah perbatasan. Bagi peradaban- peradaban lama yang berada di sekeliling samudara Hindia, pulau itu merupakan sebuah pulau kaya raya penuh rahasia di timur, suvarna dvipa, tanah emas pengawal gerbang menuju semua harta Asia Tenggara,” tulisnya.

Sumatera Timur termasuk ke dalam wilayah yang kaya raya itu. Sejak tahun 1600-an, Sumatera Timur sudah dikenal dunia. Kajian arkeologi di Situs Kotta Cinna menunjukkan adanya aktivitas kemaritiman di Sumatera Timur. Aktivitas yang dimaksud membentang dari Tiongkok Selatan hingga Teluk Persia, termasuk Thailand, Jawa, bagian Sumatera lain, Semenanjung Melatu, Sri Lanka, dan India Selatan, tulis Daniel Perret dalam buku Kolonialisme dan Etnisitas Batak dan Melayu di Sumatra Timur Laut.

Labuhan Deli adalah contoh pelabuhan ekspor yang menyalurkan hasil bumi Sumatera Timur kepada dunia. Saat itu lada adalah komoditas unggulan bagi Kerajaan Deli. Budi daya lada ini menempatkan Deli pada jaringan perdagangan internasional. Lada dibawa dari pedalaman ke Labuhan Deli menggunakan sampan-sampan kecil atau dipanggul di sepanjang jalan setapak.

Setelah Labuhan Deli sudah tidak digunakan lagi lantaran pendangkalan, Belanda membangun Pelabuhan Belawan. Posisi Pelabuhan Belawan sangat strategis karena bermuara ke Selat Malaka. Saat itu Pelabuhan Belawan didukung oleh jaringan pelabuhan yang ada di daerah pedalaman, yaitu Pulu Tandjong Poera, Rantau Pandjang, Pantei Tjermin, Perbaoengan, Tandjong Bringin Bandar Chalipah, Pagoerawan, Tandjong Tiram, Telok Niboeng, Koealoe, Laboean Bilik, Bagan Api-Api, Bengkalis, Pakan Baru, dan Pelalawan, dikutip oleh Novita Mandasari Hutagaol dalam Pengembangan Pelabuhan Belawan dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Deli 1920-1942, dari Boersma, Oostkust van Sumatra: De Ontwikkeling van het Gewest. The Hague: Charles Dixon-Deventer.

Kini, pemerintah hendak meningkatkan potensi dan keuntungan gegografis yang telah digunakan sejak berabad lalu itu. Di Selat Malaka, lalu lintas peti kemasnya mencapai 51,5 juta twenty foot equivalent unit (TEUs)  per tahun. Saat ini, Singapura masih menjadi penguasa pangsa dengan 31,3 juta TEUs per tahun disusul Port Klang 10 juta TEUs per tahun.

Untuk menggali potensi tersebut, pemerintah Indonesia membangun Pelabuhan Hub Internasional Kuala Tanjung, Kabupaten Batubara yang didukung infrastruktur macam rel kereta api baru. Pengembangan pelabuhan baru ini direncanakan hingga 2040. Pada saat itu, pelabuhan Kuala Tanjung akan mampu menampung peti kemas hingga 7,2 juta TEUs, CPO 4,3 juta ton dan CK dan GC 4 juta ton.

Tak hanya itu, pun pengembangan dapat menampung kapal curah cair maksimum 50.000 DWT, kapal peti kemas maksimum 60.000 DWT, pompa 250 ton/jam dan storage tank 110.000 ton. Pelabuhan ini juga akan terintegrasi dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangke.

Sementara itu kawasan ekonomi khusus Sei Mangke memang berdekatan lokasinya dengan pelabuhan hub internasional Kuala Tanjung. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berfungsi untuk melakukan dan mengembangkan usaha di bidang perdagangan, jasa, industri, dan lainnya.

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangke ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 2012 pada tanggal 27 Februari 2012. Kawasan ekonomi khusus ini merupakan yang pertama di Indonesia. Bisnis utama di kawasan ini fokus kepada industri kelapa sawit dan karet. Tak hanya itu, masih ada beberapa bisnis lain macam industri penunjang produksi, logistik, elektronika, dan pariwisata.

KEK Sei Mangke ini bisa langsung menyerap hasil produksi karet dan sawit rakyat. PTPN III telah membangun pabrik pengolah aneka produksi jadi dan setengah jadi dari sejumlah hasil perkebunan Sumatera Utara seperti kelapa sawit, karet, kakao dan sebagainya. Selanjutnya komoditas ini diangkut dengan kereta api ke pelabuhan Kuala Tanjung untuk dikapalkan, baik tujuan antarkota, pulau se Indonesia maupun untuk tujuan ekspor.

Di darat, pemerintah membangun jalan tol, sejak 30 tahun Sumatera Utara hanya memiliki 33 kilometer saja. Sekarang telah dibangun jalan tol Kualanamu- Tebing Tinggi sepanjang 41,65 kilometer. Selanjutnya jalan tol ini menyambung sampai ke Parapat- Danau Toba.

Tak hanya itu, di Sumut juga terdapat beberapa proyek infrastruktur lain yang sedang dibangun yakni, jalan tol Tebing Tinggi-Parapat, jalan tol Tebing Tinggi-Kuala Tanjung, pengembangan dan perluasan Bandara Kualanamu, pembangunan pelabuhan laut terbesar Kuala Tanjung, dan proyek Light Rail Transit (LRT). Tentu saja, infrastruktur ini bisa menunjang distribusi dari berbagai hasil produksi provinsi Sumatera Utara.

Selama 70 tahun, Sumatera Utara terus berbenah, melakukan penataan dan berkembang menjadi lebih paten. Wilayah yang dijuluki pulau Suvarna Dvipa ini tak pernah berhenti berkontribusi untuk pembangunan negara. (*)