Ribuan masyarakat memadati Astaka saat berlangsungnya final golongan Mujawwad MTQ Nasional ke XXVII 2018 di Jalan Willem Iskandar Deli Serdang Sumatera Utara, Kamis malam (11/10). Jumat malam (12/10), Wakil Presiden Republik Indonesia Yusuf Kalla akan menutup MTQ Nasional 2018. -Tim Publikasi MTQ Nasional 2018 Fahmi Aulia-

Medan – Final Musabaqah Tilawatil Quran Nasional ditutup dengan penampilan sempurna para peserta. Selain kemampuan peserta yang semakin baik. Sambutan pengunjung atau penonton pada pelaksanaan final lomba sangat memuaskan.

Hingga Pukul 24.00 penonton lomba cabang tilawah qiraat musajawwad dan sabaah MTQ Nasional masih terpantau ramai. Puluhan ribu penonton tampak memenuhi tribun dan halaman Astaka , lokasi utama pelaksanaan MTQN di Jalan Wilem Iskandar, Kamis (11/10).

Menurut beberapa penonton, cabang tilawah dewasa tersebut merupakan cabang bergengsi, sehingga tidak bisa dilewatkan begitu saja. Budi Santoso asal Lubuk Pakam mengatakan hari lomba terakhir ini tidak bisa Ia lewatkan begitu saja. Ia membawa keluarganya, menonton hingga qori terakhir membacakan lantunann ayat quran. “Ini kan kesempatannya Sumut jadi tuan rumah puluhan tahun, jadi kapan lagi nonton final seperti ini, seumur umur belum tentu ada kesempatannya,” ujarnya.

Penampilan sempurna peserta disampaikan Ketua Pengawas Dewan Hakim MTQN Said Agil Husain Al Munawar saat diwawancara seusai lomba cabang tilawah dewasa di arena utama (astaka) Medan, Kamis malam (11/10).

“Alhamdulillah, saya mengikuti final semua cabang, mereka tampil dengan baik. Semuanya merata ada yang dari timur hingga barat,” ujarnya tersenyum.

Menurut Said Agil, penampilan para peserta final lebih baik ketimbang peserta pada MTQ sebelumnya. “Kemampuan membawakan bacaan di bidang tajwid kemampuanya sudah bagus, pengendalian suara luar biasa. Lagu juga syairnya variatif untuk itu saya sangat senang sekali. Mudah mudahan bisa kita tingkatkan lagi,” ungkapnya.

Said Agil juga mengomentari cabang bergengsi pada MTQ Nasional tersebut. Menurutnya Qiraat mujawwad merupakan qiraat yang ditetapkan pada tahun 2003. Said Agil juga mengatakan akan terus membuahkan cabang baru. “Maka kita harapkan murottal yang tidak dilagukan, yang sekarang eksebisi nanti dilombakan,” ujarnya.

Cabang baru tersebut masih berupa eksebisi. Artinya masih belum diperhitungkan untuk perlombaan. Said Agil memperhitungkan, kemungkinan dua tahun lagi akan menjadi cabang perlombaan.

Said Agil mengharapkan, ilmu tata cara membaca Quran terus dipelajari. “Terus dimajukan, tidak semua orang bisa mempelajarinya,” katanya.

Sementara itu, Annisaul Malikhah peserta cabang tilawah dewasa asal Sumatera Barat mengaku perasaanya campur aduk setelah mengikuti final. Ia juga mengatakan kesulitannya saat mengikuti final. “Kebetulan lagunya diacak kalau misalnya tidak terbiasa dari lagu ke satunya lagi, jadi agak bingung kadang fals kadang overload,” ujarnya

Kata Annisa, semua peserta yang mengikuti final bersamanya sudah memberikan kemampuan terbaiknya masing-masing. Untuk itu, Annisa mengatakan hanya pasrah menerima nasib esok hari pada saat pengumuman pemenang lomba. “Jadi karena ini lombanya Al Quran, kita hanya tunggu nasibnya saja,” katanya.