Dinas Kelautan dan Perikanan Provsu Muliadi Simatupang bersama Kementrian Kelautan, didampingi intansi terkait dari Kabupaten Samosir, yakni Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pertanian Samosir, melakukan pengamatan visual di lapangan di Kabupaten Samosir Pangururan, Jumat (24/8/2018).

SAMOSIR – Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara (Diskanla Provsu) telah mengambil sampel air serta ikan yang mati di Danau Toba, guna meneliti penyebab pasti kematian massal ikan di perairan Danau Toba, Sumut pada Kamis (23/8/2018 ) kemarin.

Kepala Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprovsu Ilyas Sitorus yang dimintai keterangan Jumat (24/8/2018) menyatakan, beberapa tim dari provinsi serta kementrian telah terjun kelokasi melakukan pengamatan visual di lapangan di Kabupaten Samosir Pangururan.

Selain itu juga, tim telah mengambil sampel air dan ikan yang selanjutnya dibawa ke UPT Laboratorium Pembinaan Mutu Hasil Perikanan Belawan, untuk dilakukan penelitian lebih lanjut guna mengetahui penyebab kematian massal ikan tersebut.

“Saat ini tim sudah membawa sampel air dan ikan ke laboratorium kita di Belawan untuk lebih akurat hasilnya. Sampel yang diambil kualitas air dan ikan,” katanya.

Dari sampel yang diperoleh tersebut akan dianalisa unsur kimia meliputi, NH3 (Nitrat), Fosfor, Sulfur, CO2 dan lainnya. Menurut Ilyas kemungkinan Senin (27/8/2018) hasilnya sudah dapat dipastikan.

Tim tersebut terdiri dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provsu bersama
Karantina Pusat Kementrian Kelautan Perikanan didampingi intansi terkait dari Kabupaten Samosir, yakni Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pertanian Samosir.

Diterangkan Ilyas, dugaan sementara berdasarkan hasil pengamatan visual di lapangan di Kab Samosir Kec Pangururan bahwa kematian ikan disebabkan kualitas air yang buruk.

Faktor itu terlihat warna air yang kecoklatan dan keruh. Salah satu faktor penyebabnya dikarenakan saat ini sedang memasuki puncak musim kemarau disertai angin yang kencang.

Menurut Ilyas, berdasarkan keterangan dari tim, faktor lainnya adalah kandungan oksigen diperairan Danau Toba yang sangat rendah. Ini dipicu bahan organik di dasar perairan khususnya sekitar Keramba Jaring Apung (KJA) naik ke atas perairan (up-welling).

“Hal ini juga diperparah dari letak KJA yang belum mengikuti Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) seperti kedalaman perairan, padat tebar dan jarak antar unit KJA,” katanya.

Kesimpulannya, kedalaman KJA berkisar 9 – 12 m, ini sangat dangkal (sesuai perpres 81/2014 tentang RTRW Danau Toba kriteria zonasi untuk budidaya perikanan kedalamannya minimal 30 m dan 100 m).

Kemudian, kandungan oksigen terlarut berkisar 2,6 – 2,8 ppm, tidak normal (untuk KJA minimal kandungan oksigen terlarut minimal 5 ppm). Terakhir derajat keasaman atau PH = 6 (PH yang baik untuk KJA minimal 7).

“Dari beberapa indikator itu maka bisa disimpulkan sementara bahwa kematian ikan akibat kekurangan oksigen, dimana massa air dari dasar perairan naik keatas akibat adukan angin dikarenakan lokasi KJA berada pada perairan yang sangat dangkal dan ini juga ditandai dengan warna air yang keruh kecoklatan,” beber Ilyas.

Menurut Ilyas dari data yang diperolehnya dari Kepala Dinas Pertanian Kab Samosir diperkirakan ikan yang mati sekitar 180 – 200 ton dengan asumsi kerugian bila dirupiahkan lebih kurang sekitar 5-6 miliar, dan pembudidaya ikan di KJA yang terkena dampak berjumlah 18 orang.

Diketahui, kematian massal ikan di Danau Toba sudah berulang kali terjadi. Pada 2004, ikan mati massal di kawasan Haranggaol karena virus herves koi. Lalu, pada Mei 2016, lebih dari 1.000 ton ikan mati. Pada awal 2017 juga terjadi kematian massal ikan di kawasan Tongging dan Silalahi.