Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagubsu) Nurhajizah Marpaung (dua kanan) memimpin rapat lanjutan Kesiapan Danau Toba dalam hal usulan menjadi Geopark Global Network (GGN) Kaldera Toba oleh UNESCO di Ruang Melati Kantor Gubsu, Sabtu 7/10

MEDAN – Wagubsu, Dr Nurhajizah Marpaung meminta seluruh instansi agar kompak dan saling bersinergi, tidak jalan sendiri-sendiri untuk melakukan proses percepatan Geopark Kaldera Toba (GKT). Sebab hal itu, menjadi kunci agar GKT dapat berhasil menjadi anggota Geopark Global Network (UGG) UNESCO.

“Selama ini kita tidak kompak, tidak satu kata dan masih jalan sendiri-sendiri. Sementara sudah terbentuk tim percepatan geopark, harusnya di sinilah wadahnya. Dengan kekompakan maka Geopark Kaldera Toba bisa masuk menjadi anggota UGG, harusnya tidak ada alasan GKT ditolak lagi” ujar Nurhajizah dalam rapat percepatan tindak lanjut 5 rekomendasi UNESCO dalam pengusulan geopark kaldera toba, di ruang rapat kantor Gubsu, Sabtu (7/10).

Turut hadir dalam kesempatan itu, Ketua Badan Pelaksana Geopark Kaldera Toba, Alimin Ginting, Kelompok Pakar Badan Pengelola GKT, RE Nainggolan dan Wilmar Simanjorang, Kadis Lingkungan Hidup Provsu, Hidayati, staf ahli Gubsu bidang ekonomi, keuangan, pembangunan, asset dan sumber daya alam, Binsar Situmorang, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Provsu, Effendi Pohan, Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Provsu, Elisa Marbun.

Lebih lanjut dikatakan Nurhajizah, masing-masing instansi yang terkait dengan pengelolaan geopark kaldera toba harus saling berkoordinasi, seperti Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Pertambangan dan Energi, Dinas Informasi dan Komunikasi, Badan Pelaksana GKT dan lainnya. “Untuk pembuatan panel informasi dari masing-masing instansi, termasuk sosialisasi kita harapkan ada sinergi, begitu juga dengan anggaran harus disinkronkan, sehingga tidak tumpeng tindih satu sama lainnya,” terang Nurhajizah.

Kekompakan ini dikatakan Nurhajizah, perlu dilakukan mengingat waktu untuk memenuhi 5 rekomendasi dari UNESCO itu tinggal sedikit lagi. Dossier (laporan) yang harus dikirimkan ke pihak UNESCO dikatakannya harus selesai tanggal 11 Oktober, kemudian dossier tersebut nantinya akan dikirimkan ke Jakarta melalui Menko Kemaritiman RI.

“Makanya ini harus segera kita kejar, tanggal 11 Oktober dossier harus sudah kita serahkan ke Jakarta, kita juga memohon dukungan Menko Maritim dan menteri lainnya, kalau ada yang perlu dilengkapi nanti akan kita lengkapi, karena dossier harus sudah final tanggal 20-21 Oktober,” terang Nurhajizah.

Ketua Badan Pelaksana Geopark Kaldera Toba, Alimin Ginting mengatakan kalau pihaknya sudah membuat desain panel informasi untuk beberapa titik geosite. Panel informasi tersebut dikatakannya sudah termasuk informasi yang didalamnya termaktub Bahasa geologi terbentuknya suatu geosite Kaldera Toba.

“Seperti panel informasi untuk geosite Sipiso-piso, tongging ini kita buat desain terbentuknya geosite ini dengan Bahasa geologi. Sehingga kalau orang enggan membaca, bisa melihat desain grafisnya sudah paham bagaimana geosite ini dulu terbentuk,” papar Alimin.

Sementara itu, Kelompok Pakar Badan Pelaksana GKT, RE Nainggolan mengakui kalau selama ini antara dossier dan kenyataan di lapangan belum sinkron, hal inilah yang menurut dia menyebabkan GKT masih gagal masuk menjadi anggota UGG pada tahun 2015 lalu. Oleh karena itulah, diharapkannya ke depan apa yang dilaporkan dalam dossier harus sejalan dengan kenyataan di lapangan.

“Selama ini ada juga potensi-potensi yang ada belum termasuk dalam dossier, seperti spesies tumbuhan langka, maupun hewan langka. Seperti serangga di Samosir yang menurut peneliti dari Unimed itu hanya ditemukan di Australia dan Danau Toba,” kata RE Nainggolan sembari mengatakan Pemprovsu diharapkan turut melibatkan akademisi dan perguruan tinggi untuk ikut terlibat dalam percepatan GKT.