Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumut, Dahler saat menggelar konferensi pers dengan wartawan di press room kantor Gubsu, Selasa (29/8).

MEDAN – Menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha 1438 Hijriyah/tahun 2017, konsumsi pangan masyarakat pada umumnya naik 5 persen. Namun, Pemerintah Provinsi Sumut menyatakan ketersediaan bahan pangan cukup aman. Apalagi sebagian besar stok pangan mengalami surplus seperti beras, jagung, cabai merah, daging dan telur ayam.

“Kami sudah mengeluarkan perhitungan ketersediaan dan kebutuhan bahan pangan sampai bulan Agustus 2017, dan secara umum ketersediaan bahan pangan menjelang Idul Adha ini cukup aman,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumut, Dahler saat menggelar konferensi pers dengan wartawan di press room kantor Gubsu, Selasa (29/8).

Dalam acara yang dimoderatori Kasubag Layanan Media Biro Humas dan Keprotokolan Provsu, Ilona Anggeriani, diinformasikan bahwa komoditas pangan yang saat ini masih mengalami defisit adalah bawang merah, hal ini disebabkan karena pemenuhannya masih berasal dari provinsi lain, sehingga ketersediaannya harus tetap terjaga.

“Berdasarkan hasil panel harga, secara keseluruhan harga pangan menjelang Idul Adha juga cenderung stabil, tidak terdapat adanya lonjakan harga yang cukup sifnifikan,” terang Dahler sembari menyebutkan stabilnya harga tersebut didukung oleh adanya ketersediaan pangan yang surplus untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Sumut.

Lebih lanjut dijelaskan Dahler, untuk saat ini ketersediaan bahan pangan strategis hingga Agustus 2017 di Sumut, untuk beras sebanyak 1.748.218 ton dengan kebutuhan 1.174.208 ton. Jagung ketersediaan 36.977 ton dan kebutuhan 16.829 ton, kedelai ketersediaan 91.481 ton dan kebutuhan 63.839 ton. Cabai merah ketersediaan 91.657 ton dengan kebutuhan 48.796 ton.

Begitu juga dengan bawang merah ketersediaan sebanyak 10.036 ton dan kebutuhan 331.324 ton, daging sapi ketersediaan 19.941 ton sementara kebutuhan12.369 ton, daging ayam ketersediaan 56.818 ton sementara kebutuhan 35.538 ton, dan telur ayam ketersediaan 132.976 sementara kebutuhan 96.911 ton.

Sementara untuk penyembelihan hewan kurban dikatakan Dahler, untuk tahun 2016 lalu penyembelihan sapi sebanyak 30.055 ekor, kerbau sebanyak 795 ekor, kambing 11.907 ekor dan domba 5138 ekor.

“Berdasarkan data dari tahun sebelumnya, penyembelihan hewan kurban di Sumut akan meningkat sekitar 10 persen setiap tahunnya,” kata Dahler.

Oleh karena itu, untuk perkiraan jumlah hewan kurban tahun 2017, kata Dahler untuk sapi sebanyak 33 ribu ekor, kerbau 870 ekor, kambing 13.200 ekor dan domba sebanyak 5.800 ekor.

Untuk mengantisipasi kebutuhan ternak dan memastikan tersedianya pasokan hewan qurban 2017, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara telah melakukan koordinasi dengan dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan dikabupaten yang merupakan daerah sentra produsen ternak seperti Deli Serdang, Serdang Bedagai, Langkat, Asahan, Batu Bara, Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara dan Labuhan Batu Selatan.

Tak hanya itu, lanjut Dahler, pihaknya juga melakukan seleksi dan pemenuhan syarat hewan kurban seperti sehat berdasarkan pemeriksaan ante-mortem yaitu bulu bersih dan tidak kusam, lincah, nafsu makan baik, suhu tubuh normal, lubang kumiah (mulut, mata, hidung, telinga dan anus) bersih dan normal.

Selain itu hewan kurban yang sehat tidak boleh cacat, misalnya pincang, buta, kerusakan telinga dan lainnya. harus cukup umur, maksudnya untuk sapi/Kerbau berumur diatas 2 tahun ditandai dengan tumbuhnya sepasang gigi tetap. Kambing/domba berumur diatas 1 tahun ditandai dengan tumbuhnya sepasang gigi tetap.

“Hewan juga tidak boleh kurus dan harus jantan, tidak dikebiri dan testis atau buah zakar masih lengkap yakni dua buah dan bentuk serta letaknya harus simetris,” papar Dahler.

Dengan jumlah populasi hewan yang cukup besar serta memperhatikan syarat hewan qurban, kebutuhan ternak untuk hewan qurban di Sumatera Utara, dikatakan Dahler dapat dipenuhi dari ketersedian ternak lokal Sumatera Utara.
Begitu pun, Dahler mengatakan secara umum harga hewan kurban menjelang hari raya Idul Adha memang mengalami kenaikan jika dibandingkan biasanya, namun tidak signifikan. Diperkirakan untuk daging sapi di kisasaran harga Rp110 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram. Kenaikan itu menurut dia wajar karena permintaan ternak yang meningkat serentak hampir di seluruh daerah.

“Selain itu ada biaya transportasi dan pemeliraan di tempat penjualan ternak kurban. Namun, selama ini pembeli tidak terlalu mempermasalahkan harga selama kriteria hewan kurban sesuai syariah Islam sudah terpenuhi,” katanya.

Dahler juga mengatakan, Pemprovsu juga memberikan jaminan keamanan daging kurban bagi masyarakat yang membutuhkan. Hal ini dilakukan dengan mengirimkan surat imbauan kepada Bupati/Walikota se-Sumut perihal pengawasan penyembelihan hewan kurban. Melaksanakan pelatihan juru sembelih hewan kurban melalui Badan Kenaziran Masjid (BKM) secara berkelanjutan.

“Untuk tahun ini dilatih sebanyak 150 orang,” kata Dahler.

Selain itu, pihaknya juga membagikan leaflet dan brosur tentang mutu dan keamanan hewan kurban untuk dibagikan kepada panitia kurban di setiap daerah melalui pemerintah kabupaten/kota. Bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) melaksanakan pelatihan mengenai penanganan daging kurban yang hygenis serta sesuai dengan syariat. Selain itu, juga melakukan pemeriksaan kesehatan hewan kurban dan memberi label huruf “S” pada hewan kurban di tempat penyediaan hewan kurban.