BERASTAGI – Komoditi kopi Arabika asal Sumatera Utara (Sumut) merupakan komoditi yang terkenal dengan kualitas dan diminati di pasar internasional. Hal tersebut diakui langsung oleh Hani Salem Sonbol, CEO International Islamic Trade Finance Corporation (ITFC) usai mewisuda 349 petani kopi dari Kabupaten Karo dan Dairi yang telah mengikuti program Coffee Export Development, Selasa (16/7).

“Para penikmat kopi yang berada di Jeddah kebanyakan suka menikmati Kopi asal Sumut, khususnya Arabika dari Tanah Karo, termasuk saya, aromanya begitu khas,” ungkap Hani Salem Sonbol, pada sesi tanya jawab dengan wartawan di VIP Room Hotel Grand Mutiara, Jalan Peceren Nomor 168, Sempajaya, Berastagi, Kabupaten Karo.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagub Sumut) Musa Rajekshah juga menceritakan pengalamannya menikmati Kopi Sumatera saat berkunjung ke Rusia. “Saya pernah ke Rusia beberapa waktu lalu, saya singgah ke kota kecil dan singgah ke salah satu kedai kopi, pada dinding kedai kopinya banyak tulisan tentang ragam Kopi Sumatera, jadi begitu terkenalnya lah Kopi Sumatera ini, kita harus manfaatkan itu,” ujarnya.

Sampai saat ini, selain Jeddah ada enam negara yang menjadi langganan Kopi Sumatera. Negara yang sangat berminat dengan Kopi Sumatera itu diantaranya Amerika, Jerman, Jepang, Korea, Belanda, dan China.

Karena minat yang cukup tinggi itu pula, pertumbuhan petani kopi di Tanah Karo cukup signifikan. “Beberapa tahun terakhir pertanaman berkembang secara signifikan di Tanah Karo, sampai tahun 2018 luas tanaman kopi mencapai 9.178,44 hektare dan luas panen 6.875 hektare, dengan produktivitas 1.931,60 kg/hektare/tahun,” ujar Bupati Kabupaten Karo Tarkelin Brahmana.

BACA JUGA  Ribuan Orang Padati Lapangan Merdeka Medan Saksikan Upacara HUT ke-74 Kemerdekaan RI

Ia juga menjelaskan bahwa Kabupaten Karo merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumut yang 80% masyarakatnya hidup dari sektor pertanian. Hal ini dapat dilihat dari PDRB sektor pertanian sebesar 56%.

Sementara itu, Kordinator Program Petrasa Lidia Naibaho mengatakan, walau ditopang alam yang subur, ternyata hasil produksi kopi dari Tanah Karo masih perlu ditingkatkan lagi. Hal itu karena, masih banyak petani yang belum memahami proses pengolahan pascapanen secara benar.

“Karena itu, hampir satu tahun di Karo, kami membuat pelatihan dasar kepada petani kopi tentang membuat pupuk organik hingga pengolahan pascapanen pada kopi. Dengan begitu diharapkan, produksi kopi di daerah ini akan semakin meningkat,” ucap Lidia. Petrasa merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang memberikan pelatihan kepada petani kopi di Dairi dan Karo, agar mampu meningkatkan produktivitasnya.

Salah satu petani kopi dari Mestacapah mengaku gembira, mengetahui kopi asal daerahnya menjadi salah satu yang diminati pasar internasional. Dia pun berharap, berbagai dukungan dari Pemprov Sumut dan pihak terkait lainnya terus berlanjut ke depan, sehingga produksi kopi Karo semakin meningkat.

Mestacapah juga berterima kasih kepada LSM Petrasa, yang telah memberikan pelatihan kepada petani. “Kami banyak diajari tentang budidaya kopi, mulai dari pembibitan, penyemaian, penanaman, hingga pengolahan pascapanen, bahkan bagaimana proses melakukan eksportir juga diajarkan kepada kami,” ujar Mestacapah.**

BACA JUGA  Hadiri Orientasi Mahasiswa Baru Fakultas Hukum USU, Wagub Apresiasi Sikap Kritis Mahasiswa