Pengunjung sedang melihat koran asli di Pameran Satu Abad Surat Kabar Sumut di Lobi Kantor Gubsu, Kamis (7/2). Hari kedua pameran diramaikan oleh berbagai pengunjung mulai dari mahasiswa hingga warga asing.

MEDAN – Memasuki hari kedua ‘Pameran Satu Abad Surat Kabar Sumatera Utara (Sumut) di Lobi Kantor Gubernur Sumut (Gubsu) Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30 Medan, Kamis (7/2), diramaikan ratusan pengunjung dari berbagai lapisan masyarakat. Pengunjung yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, wartawan, penggiat sejarah, hingga warga asing itu tampak kagum dan mengapresiasi pameran yang sangat langka tersebut.

Para pengunjung banyak yang kagum, karena pameran yang diadakan selama tiga hari, 6 – 8 Ferbuari 2019 dan memamerkan sedikitnya 80 koran asli yang berasal dari tahun 1880 hingga 1942. Apalagi sangat jarang ada pameran yang menunjukan kekayaan penerbitan pers Sumut sejak masa Hindia Belanda.

Salah satu pengunjung adalah warga negara asing asal Inggris, Teresa Birks. Ia mengapresiasi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) telah mengadakan pameran tersebut. Tidak hanya itu, ia juga berterimakasih lantaran pameran tersebut dibuka untuk umum.

Teresa menyempatkan datang karena tertarik dengan sejarah Sumut. Dulunya Teresa pernah kuliah budaya dan sastra Melayu. Hal itu yang membuatnya datang ke pameran tersebut. “Saya pernah belajar bahasa dan budaya Melayu itu salah satu alasan saya kemari,” katanya, usai melihat seluruh koleksi pameran, Kamis (7/2).

Menurut Teresa, pameran tersebut sangat penting bagi generasi muda agar mengetahui sejarah mengenai proses persatuan Indonesia lewat pers. Ditambahkannya, pers memiliki peran dalam menciptakan identitas negara.

BACA JUGA  Meriahkan HUT ke-71 Provinsi Sumut, Biro Humas Launching Lagu Dendang Delapan Etnik Sumut

“Ini menarik, saya nggak nyangka koran yang diterbitkan di Sumut sebanyak ini, dan semuanya punya akar logika sendiri, kita lihat sebanyak itu untuk menyatukan Indonesia dalam menciptakan sebuah identitas,” katanya.

Setelah melihat seluruh koleksi koran, Teresa tersadar bahwa pada masa lalu, koran yang terbit di Sumut merupakan contoh dari ‘think globally and act locally’. Artinya, koran-koran yang terbit di Sumut pada masa lalu juga memberitakan mengenai situasi yang ada di dunia internasional. Namun dikemas sesuai konteks yang ada di daerah dan Indonesia pada masa itu.

Teresa mengharapkan, koran-koran lama tersebut dibukukan dan dibuatkan katalog lengkapnya di situs internet. Hal ini dilakukan agar generasi milenial dapat mengetahui informasi tersebut dengan mudah dan ringkas.

Sementara itu, mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU) Hafiz mengatakan setelah melihat pameran tersebut, Ia tahu bahwa Bahasa Indonesia sudah berubah banyak hingga sekarang. “Ternyata tata atau kaidah penulisan bahasa Indonesia itu sampai sekarang sudah berubah drastis,” ujarnya.

Selain itu, Hafiz tertarik dengan iklan-iklan yang terbit pada masa lalu. Hafiz baru tahu sudah sejak dulu, iklan seperti masa sekarang digunakan untuk menginformasikan produk atau barang dagangan.

Senada dengan Hafiz, Mahasiswi UIN SU Dina dengan melihat pameran tersebut, dirinya bisa membandingkan bahasa masa lalu dengan sekarang. Untuk itu, Dina mengharapkan tahun depan pameran tersebut diadakan lagi, agar lebih banyak masyarakat yang melihat dan tahu mengenai sejarah membanggakan pers Sumatera Utara.

BACA JUGA  Pemilu Tebingtinggi Lancar dan Kondusif, Sekdaprov Sumut Harapkan Capai Target Nasional

Pengunjung yang berdatangan terpantau ramai sejak kemarin. Selain melihat koleksi koran asli, pengunjung memanfaatkan lokasi pameran sebagai tempat ajang berswafoto. Panitia pameran juga menyediakan tempat foto dengan bingkai yang menyerupai koran asli.

Selain koran, juga dipamerkan barang antik dan klasik milik kolektor benda bersejarah J Siahaan. Barang tersebut di antaranya, kamera dan telepon dari zaman kolonial, serta pesawat radio yang berasal dari tahun 60-an.

Kepala Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprovsu Ilyas Sitorus mengatakan pameran hasil kerja sama Pemprovsu dengan Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, serta Rumah Sejarah Medan itu bertujuan untuk menunjukkan bahwa Sumut adalah lumbung media. Ada 147 penerbitan pers yang terbit hingga tahun 1942. Bahkan salah satunya ada yang berani menggunakan kata ‘merdeka’ untuk nama korannya.

Ilyas mengatakan masyarakat masih dapat melihat koran hingga Jumat, (8/2). “Diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan satu hari lagi untuk melihat koran asli tersebut,” ujar Ilyas. **