MEDAN – Museum Negeri Sumatera Utara akan menggelar Pameran Sejarah Perjuangan Bangsa, yang akan dibuka secara resmi pada Selasa (29/8/2017) hingga September mendatang. Menurut Kepala Museum Negeri Sumut Martina, pameran dimaksudkan agar masyarakat Sumut lebih mengenal sejarah perjuangan kemerdekaan di daerah ini, termasuk pejuang dan pahlawan dari Sumatera Utara.

“Pameran dibuka besok dan berlangsung selama satu bulan,” tutur Martina S didampingi Kabid Sejarah Purbakala Usman Effendi saat memberikan keterangan kepada wartawan di press room Kantor Gubernur Jalan Diponegoro Medan, Senin (28/8/2017).

Acara itu dipandu Kasubag Pemberitaan Humas Setda Provsu Harvina Zuhra dan dihadiri pula oleh Ketua Bidang Organisasi Dewan Harian Daerah (DHD) 45 dan Kepala Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Unggul Sitanggang serta Kasubbid Antar Lembaga Salman Tanjung.

Menurut Martina, pameran yang mengambil tema Indonesia Kerja Bersama Sarana Strategis Penyebarluas Informasi ini akan menampilkan 83 buah koleksi benda dari Museum Negeri Provinsi Sumut, 4 buah koleksi benda dari Museum Pahlawan Nasional Letjen Jamin Ginting, 9 buah koleksi dari Museum Perjuangan TNI serta didukung 97 buah foto dan lukisan yang berhubungan dengan sejarah perjuangan bangsa serta kondisi sosial budaya di masa perjuangan yang sebagian diantaranya merupakan koleksi dari Bapak Muhammad TWH.

Dengan diadakannya pameran ini diharapkan minat masyarakat khususnya pelajar dan mahasiswa untuk mengunjungi museum akan semakin meningkat. Sebab tahun ini jumlah kunjungan sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya.

“Tahun lalu kita menggandeng asosiasi biro perjalanan seperti ASITA, sehingga dalam setiap kunjugan wisatawan dimasukkan agenda mengunjungi museum negeri,” sebut Martina.

Pihak Museum Negeri menargetkan kunjungan 300-400 pengunjung per hari, dimana khusus untuk acara pembukaan, Selasa (29/8) panitia akan menggratiskan biaya masuk.

Salah satu jenis koleksi yang akan ditampilkan adalah senjata yang digunakan oleh para pejuang kemerdekaan dari alat dan bahan yang seadanya. Bukan hanya bambu runcing, jelas Martina, pejuang dahulu juga menciptakan senjata dari bahan seadanya. Seperti telur yang isinya dikeluarkan kemudian diisi dengan campuran merica dan cabai yang digiling halus dan dicampur air.

“Telur berisi merica dan cabai ini dilemparkan ke arah mata lawan. Tujuannya untuk melumpuhkan, sebagai taktik merampas senjata lawan,” jelas Martina.