MEDAN – Kegiatan Orasi Kebangsaan dan Pengukuhan DPP IKA-KNPI Sumatera Utara (Sumut) di Hotel Polonia Medan, Sabtu (24/2) malam, Gubernur Sumut Dr. Ir. HT. Erry Nuradi, MSi didoakan menjadi menteri setelah masa tugasnya. Dalam pertemuan itu juga, diharapkan kepemimpinan berikutnya dapat melanjutkan kinerja positif yang telah dicapai selama ini.

Gubsu Erry Nuradi dalam sambutannya mengatakan bahwa pertemuan sialturrahim tokoh-tokoh alumni Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sumatera Utara lintas generasi merupakan kegiatan yang dinantikan. Hal ini selain untuk mempererat hubungan sesama mantan kader, juga sebagai bentuk refleksi atas perkembangan dinamika bangsa.

“Sekarang ini banyak yang membagi bahwa dahulu adalah zaman old, dan sekarang zaman now. Kalau teknologi secara fisik, mungkin zaman nenek moyang kita dulu juga tidak kalah. Coba lihat Candi Borobudur, yang sekarang belum tentu kita bisa buat. Jadi yang membedakannya adalah teknologi informasi yang kini berkembang pesat, orang tidak perlu kesana kemari untuk bisa mendapatkan sesuatu, cukup pesan melalui smartphone, itulah bedanya,” ujar Erry.

Namun menurutnya, sebagian bangsa yang besar, masyarakat tidak boleh melupakan sejarah para pendahulu yang telah membangun Negara ini hingga bisa menjadi seperti saat ini. Karena itu pula, kemajuan yang ada, harus tetap memegang nilai dan norma dalam setiap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Jangan lupa, kita ada hari ini karena pendahulu kita. Jangan cepat melupakan. Karena itu pula, sebagai penghargaan, beberapa ruangan di Pemprov Sumut saat ini ditandai dengan nama-nama mantan Gubernur Sumut, seperti nama ruang pertemuan Pak Syamsul Arifin,” kata Gubernur.

Selain itu, Gubernur juga berharap agar Sumut di masa mendatang bisa lebih baik dari sekarang. Tentunya, apa yang telah dikerjakan selama ini, jika bernilai baik, dapat dipertahankan dan dilanjutkan. Namun juga masih kurang, maka diperbaiki. Tidak perlu menjelekkan dan menjatuhkan.

Sebelumnya, mantan Gubernur Sumatera Utara H Syamsul Arifin yang dalam kegiatan itu dinobatkan sebagai Wali Rakyat oleh alumni KNPI, mengajak seluruh mantan kader untuk ikut bekerja menjadikan provinsi ini maju dan diperhitungkan. Sebab menurutnya tidak ada pengabdian yang pensiun, meskipun tidak lagi duduk di organisasi kepemudaan tersebut. Apalagi katanya, banyak tokoh yang menduduki posisi penting hingga menteri seperti Boomer Pasaribu.

“Karena urusan rakyat ini tidak banyak, pertama tidak lapar, tidak, tidak bodoh dan tidak miskin dan dia punya masa depan. Apa yang dibuat Pak Tengku Erry sudah mantap. Makanya kita mau lihat siapa yang mampu membuat (melanjutkan),” katanya.

Atas prestasi yang telah banyak ditorehkan Erry selama kepemimpinan sebagai Gubernur, Syamsul pun mengajak seluruh hadirin untuk mendoakan orang nomor satu di Sumut itu menjadi Menteri. Dirinya melihat semangat besar mantan Bupati Sergai tersebut untuk ters membangun provinsi yang terdiri dari 33 kabupaten/kota ini.

“Saran saya, beliau ini diberi gelar pada Milad KNPI nanti. Kalau kami dari MABMI akan adakan syukuran. Apalagi beliau mengantarkan Pilkada Sumut ini dengan baik,” katanya.

Begitu juga dengan tahun politik saat ini, Syamsul bergelar Datuk Sri Lelawangasa ini juga meminta semua pihak khususnya tokoh-tokoh alumni KNPI untuk bersama menjadikan Pilgub 2018 di Sumut lebih baik. Tidak menimbulkan konflik apalagi berbau SARA. Sebab banyak bangsa yang menginginkan Indonesia terpecah belah, terlebih Sumut salah miniatur Indonesia.

“Saya bicara Pilkada, kita harus selalu mengimbau masyarakat untuk ikut Pilkada. Saya berdoa supaya minimal 60 persen rakyat (pemilih) datang ke TPS,” sebutnya.

Sedangkan orasi dari mantan Ketua Umum KNPI, Didit Hariadi mengisyaratkan betapa pentingnya memperhatikan perkembangan generasi muda saat ini. Sebab menurutnya, secara tidak langsung generasi Indonesia dibagi menjadi tiga waktu, Pertama, generasi X yang lahir antara 1965-1980, dimana kehidupan di masa itu penuh keteraturan.

Selanjutnya generasi Y kata Didit, yang lahir  antara 1980-1995 atau generasi Milenia. Masa ini mulai dipengaruhi globalisasi, ideologi luar dan mulai ada identifikasi diri. Serta yang terakhir adalah generasi Z, yang lahir antara 1995-2012 yang harus diwaspadai. Sebab disatu sisi ada potensi membangun bangsa yang besar sekaligus juga bisa menghancurkan.

“Dulu kita tidak pernah tanya suku dan agamanya apa, semua satu, pemuda Indonesia, dibentuk dalam satu kesatuan. Tetapi sekarang, zaman serba digital. Jadi kita harus keras membimbingnya. Karena mereka kuasai teknologi, terbuka dan tidak mengindahkan norma,” sebutnya.

Untuk itu Didit meminta seluruh Alumni (IKA) KNPI bertugas untuk menjaga nilai kebangsaan. Karena menurutnya, belakang ini orang tidak lagi bicara cinta tanah air, membangun bagaimana masyarakat maju, paham kebangsaan dan semangat. “Ini harus menjadi keprihatinan kita, karena generasi baru ini adalah tajam, kalau tidak kita jaga, maka akan jadi kaum ‘onta’, otak nihil tanpa akal,” katanya.

Hadir juga dalam pertemuan itu sejumlah tokoh seperti Ketua DPRD Sumut Wagirin Arman, para anggota Dewan yang juga alumni KNPI, Anggota DPD RI Dedi Iskandar Batubara, mantan ketua KNPI Sumut Bahdin Nur Tanjung, Rolel Harahap, Firdaus, Yasyir Ridho Lubis dan pengurus organisasi kepemudaan di Sumut.