MEDAN – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mendukung kegiatan pengumpulan koleksi kayu yang ada di Indonesia, khususnya Sumatera Utara. Kegiatan ini diharapkan dapat memberi sumbangsih kepada berbagai kalangan termasuk akademisi, industri, dan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara (Sekdaprovsu) Dr Ir H R Sabrina MSi saat menerima kunjungan Kepala Pusat Litbang Hasil Hutan, Badan Litbang dan Inovasi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dwi Sudharto dan Direktur Pengembangan Teknologi Industri Kemenristekdikti Hotmatua Daulay di Rumah Dinas Sekdaprovsu, Medan, Senin (20/8) malam.

Pengumpulan kayu nantinya akan menjadi database koleksi kayu dari seluruh Indonesia. Data tersebut dikumpulkan di xylarium atau perpustakaan kayu. “Ini sangat banyak sekali manfaatnya, kami sangat mendukung. Kegiatan ini nantinya dapat mengefisiensi waktu dan mencegah kerugian negara,” ujar Sabrina.

Menurutnya, database ini tidak hanya bisa digunakan satu kalangan saja, melainkan semua kalangan termasuk masyarakat. “Selain itu, ini bisa banyak membantu proses ekspor dan impor kayu sehingga tidak ada lagi kebohongan yang menyebabkan kerugian negara,” imbuhnya.

Koleksi kayu Indonesia, kata Sabrina, seharusnya lebih banyak ketimbang negara Belanda yang saat ini menjadi pengkoleksi kayu nomor satu di dunia. “Sebab banyak keanekaragaman hayati di negara khatulistiwa, untuk itu, Indonesia seharusnya memiliki banyak jenis kayu,” katanya.

Dikatakan juga, museum yang selama ini menjadi tempat mengkoleksi budaya juga bisa menjadi tempat menyimpan keanekaragaman hayati daerah. “Selain menambah ilmu pengetahuan, ini dapat mendorong anak-anak agar nantinya bersemangat menjadi peneliti,” ujar Sabrina, yang didampingi Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumut Halen Purba.

Kepala Pusat Litbang Hasil Hutan, Badan Litbang dan Inovasi KLHK Dwi Sudharto mengatakan saat ini Belanda adalah negara pengkoleksi kayu nomor satu di dunia. “Kemudian menyusul Amerika, Belgia, dan Indonesia di nomor 4,” katanya.

Karena itu, Dwi berharap dengan kegiatan pengumpulan koleksi kayu akan menjadikan Indonesia nomor satu pengkoleksi kayu terbesar di dunia. Setiap jenis kayu memiliki pori atau anatomi yang berbeda-beda. “Saat ini Litbang KLHK bersama LIPI sedang mengembangkan suatu kajian penelitan dan mengembangkan suatu alat untuk mengidentifikasi kayu,” katanya.

Kayu yang dikumpulkan akan masuk ke dalam database atau xylarium. Selanjutnya, jika ingin mencari atau mengidentifikasi suatu jenis kayu hanya tinggal membuka database tersebut. “Ke depan, sistem ini akan diaplikasikan di ponsel pintar,” kata Dwi.

Direktur Pengembangan Teknologi Industri Kemenristekdikti Hotmatua Daulay mengharapkan Sumatera Utara menjadi provinsi yang unggul dari provinsi lain dalam jumlah spesimen kayu. “Karena Sumatera Utara memiliki potensi hutan yang sangat besar,” katanya.

Disampaikan juga, pada 23 September 2018, Presiden Joko Widodo akan mengukuhkan spesimen kayu Indonesia di acara Deklarasi No 1 Dunia yang akan diselenggarakan di Yogyakarta. **