Penjabat (PJ) Gubernur Sumatera Utara, Drs. Eko Subowo, MBA mengunjungi Musem Batak TB Silalahi Centre, Desa Silalahi, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir, Rabu (1/8). (Foto : Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprovsu).

BALIGE – Penjabat Gubernur Sumatera Utara (Pj Gubsu) Drs Eko Subowo MBA dan Plt Ketua TP PKK Provsu Iit Kartika Eko Subowo mengunjungi Museum TB Silalahi Center di Jalan Pagar Batu Nomor 88, Desa Silalahi, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir, Rabu (1/8).

Kedatangan Pj Gubsu Eko Subowo yang didampingi Bupati Tobasa Darwin Siagian, Wakil Bupati Tobasa Hulman Sitorus, Kepala Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprovsu Ilyas Sitorus, Kabag Humas Indah Dwi Kumala dan Kabag Keprotokolan Moettaqien Hasrimi, disambut dengan tarian Tor Tor.

Pj Gubsu tampak kagum ketika melihat berbagai benda koleksi museum yang didirikan oleh putra Batak yang sukses Letjen TNI (Purn) Dr Tiopan Bernhard Silalahi. Terutama, berbagai benda bersejarah dari budaya Batak Toba, Karo, Simalungun, Mandailing dan Angkola serta Pakpak. Diantaranya pakaian, senjata, ukiran, kain ulos, dan patung khas Batak. Juga koleksi barang-barang pribadi TB Silalahi.

“Ini sangat mengagumkan, begitu banyaknya budaya dan silsilah Batak yang masih dapat dipertahankan, dari leluhur si Raja Batak hingga sampai keturunannya sekarang,” ujar Eko Subowo.

Selain artefak Batak, museum yang diresmikan tanggal 18 Januari 2011 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai museum Batak itu, juga menyajikan informasi tentang sejarah Danau Toba dan Perjuangan Raja Si Singamangaraja XII melawan Belanda. Serta sejarah daerah Batak, baik masuknya agama dan penjajah.

Pj Gubsu dan rombongan juga melihat tiruan bangunan perkampungan Batak yang disebut Huta Batak, di bagian luar museum yang berada di tepi Danau Toba itu. Sedikitnya ada 6 rumah adat Batak dibuat sedemikian rupa, beserta kuburan batu, hariara, pohon bambu, dan ulubalang. Ada juga tiruan patung Si Gale-gale yang dipajang di depan salah satu rumah adat Batak.

“Keberadaan museum ini sangat baik dan bermanfaat untuk generasi penerus. Ini perlu dijaga dan dilestarikan. Karena, museum bukan hanya tempat untuk berwisata atau khusus menyimpan koleksi-koleksi benda bersejarah, tapi juga bisa dijadikan sebagai media pembangunan pendidikan dan karakter,” ujar Eko Subowo, yang juga Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri itu.**