Kompleks ruang pameran yang berlokasi di Tapian Daya, Jalan Medan-Binjai Km 6 yang dikenal dengan gedung Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) kembali gegap gempita. Setiap tahun even pameran yang mempromosikan potensi serta budaya daerah itu begitu melekat di hati masyarakat Sumut.

Tahun ini ajang promosi tersebut kembali digelar untuk yang ke-47 kalinya. Pembukaanya yang dilangsungkan pada Minggu (18/3) lalu begitu semarak. Ribuan masyarakat antusias memadati arena panggung utama. Kemeriahan ini diawali dengan penampilan penari yang menyambut Gubernur Sumatera Utara, Dr Ir H T Tengku Erry Nuradi, MSi dengan silat melayu dan tari persembahan.

Kali ini Gubsu, Erry membuka even PRSU bertepatan dengan usia provinsi Sumatera Utara yang sudah memasuki 70 tahun. Mengambil tema ‘Mari Jadikan Provinsi Sumut Sebagai Destinasi Investasi Pariwisata dan Perdagangan’. Tema ini dipilih karena Sumut saat ini telah memiliki banyak agenda pembangunan infrastruktur guna meningkatkan pariwisata dan investasi yang masuk ke Sumatera Utara.

“Pekan Raya Sumut pada tahun ini mengambil tema mari menjadikan Provinsi Sumut sebagai destinasi investasi pariwisata dan perdagangan menuju Sumut yang semakin baik dan paten,” kata Gubsu.

Saat ini, Pekan raya Sumatera Utara telah masuk ke dalam jadwal event nasional yang dirilis oleh Kementerian Pariwisata. Begitu juga dengan Pesta Danau Toba dan Pesta Ya’ahowu dari Nias ikut masuk ke dalamnya. Di twitter,

kalender event nasional itu sempat menjadi trending topic dengan tagar #CalenderEventKemenpar2018. Selain 3 acara tersebut, masih ada 82 acara Sumatera Utara yang direncanakan akan menjadi event nasional.

“PRSU ini disebut juga sebagai miniaturnya Sumatera Utara,” kata Gubsu. Semua kabupaten dan kota di Sumatera Utara menampilkan ciri khas masing-masing wilayah melalui pavilun yang dibangun di dalam lingkungan PRSU. Ciri khas yang ditampilkan itu termasuk produk, hasil bumi, kesenian dan budaya yang terdapat di setiap wilayah masing-masing. Pun bentuk Paviliun biasanya dibangun berdasarkan rumah adat yang ada di setiap kabupaten kota.

Tahun ini, ada dua pavilun baru yang diresmikan oleh sang Gubernur. Paviliun Nias Utara dan Gunung Sitoli resmi bergabung bersama paviliun kabupaten kota lain yang lebih dulu mengikuti Pekan Raya Sumatera Utara setiap tahun. Gubsu mengharapkan, selanjutnya Nias Barat juga membangun paviliun.

Selain menampilkan produk unggulan dan potensi daerah masing-masing, BUMD dan BUMN ikut serta membuka stand di PRSU. Ajang ini juga berkembang menjadi ajang hiburan dan rekreasi alternatif bagi warga Sumatera Utara. Tempat melepas penat masyarakat. Tahun ini saja, ada beberapa band dan musisi ibukota yang akan mengisi rangkaian acara Pekan Raya Sumatera Utara 2018. Misalnya Wali band, Govinda band dan beberapa artis dangdut yang tentu saja sudah dikenal warga Sumatera Utara.

Beberapa pengunjung sangat senang dengan adanya Pekan Raya Sumatera Utara. Ayu Aulia misalnya. Dia bersama anak dan suaminya datang dari Lubuk Pakam. “Seminggu kerja kan capek, pekan raya ini bisalah jadi penghilang capek,” kata Ayu sambil menggendong anaknya yang berumur 2 tahun. Dia datang ke pembukaan Pekan Raya lantaran ingin melihat Gubsu secara langsung.

Beda dengan Sulaiman, pada saat pembukaan Pekan Raya lalu, dia mengira ada artis ibukota yang tampil. Dia sengaja datang dari Tanjung Morawa untuk melihat artis yang tampil. Tapi dia bilang tetap senang walaupun tidak ada artis ibukota yang tampil pada hari itu. “Di sini saya bisa bawa anak-anak belajar, melihat-lihat paviliun kabupaten kota yang ada di Sumatera Utara,” kata Sulaiman.

Dulu, Pekan Raya Sumatera Utara disebut Medan Fair. Berdasarkan keputusan Gubernur KDH I Sumatera Utara No: 589/IV/GSU, Medan Fair ditujukan sebagai arena informasi dan promosi bagi produk daerah secara lokal. Saat itu Medan Fair diketuai oleh Djamaluddin Tambunan.

Joan Ari Sukaesa menulis dalam penelitian skripsi, Perkembangan Pekan Raya Sumatera Utara, “Pelaksanaan Medan Fair dilatar belakangi Pemerintah Tingkat I Sumatera Utara dan Pemerintah Daerah Tingkat II Medan yang merasakan ketiadaan fasilitas yang dapat memberikan gambaran objek tentang hasil yang dicapai di bidang pemerintah, industri, bisnis, kerajinan rakyat, kesenian, pariwisata dan berbagai produk lainnya,” tulisnya.

Untuk menjawab masalah tersebut, pembangunan sebuah komplek yang berfungsi sebagai pameran dan promosi, pengenalan serta penjualan seluruh produk masyarakat sekaligus arena hiburan adalah solusinya, tulis Joan.

Sejak pertama kali diadakan, Pekan Raya Sumatera Utara mengalami banyak perubahan. Mulai dari pergantian nama Medan Fair menjadi Pekan Raya Sumatera Utara hingga lokasinya. Awalnya berada di Jalan Gatot Subroto No.30, kemudian pada tahun 2002 pindah ke Jalan Gatot Subroto No.238.

Selama ini Pekan Raya atau Medan Fair dikelola oleh yayasan Pekan Raya Sumatera Utara. Namun pada pembukaan Pekan Raya 2018 lalu, gubernur menyampaikan Pekan Raya Sumatera Utara akan menjadi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Jika sudah menjadi BUMD, Pekan Raya Sumatera Utara direncanakan akan buka sepanjang tahun. Masyarakat pun bisa berkunjung setiap hari. Ke depan, Gubsu berharap even ini dapat semakin baik dari tahun sebelumnya. “Perayaan ini harus semakin baik dari tahun ke tahun,” harap Erry. (*)