Sumatera Utara (Sumut) terus berbenah untuk menjadi destinasi wisata yang diburu para pelancong nusantara maupun mancanegara. Apalagi setelah Danau Toba ditetapkan dalam 10 destinasi wisata prioritas nasional dan mendapat perhatian dalam pengembangan Kasawan Strategis Nasional (KSN), maka Pemerintah Provinsi Sumut (Pemprovsu) berupaya untuk mengejar target kunjungan wisatawan sebanyak 1 juta orang pada tahun 2019 mendatang.

Dalam beberapa tahun terakhir jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Sumut memang tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Jika dibandingkan era tahun 80-an, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Sumut mampu mencapai 500 ribu orang per tahun.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Sumut (BPS) kunjungan wisman di tahun 2012 mencapai 241.833, tahun 2013 sebanyak 259.299, tahun 2014 meningkat menjadi 270.837. Selanjutnya di tahun 2015 kunjungan menurun menjadi 229.288 dan tahun 2016 mengalami peningkatan menjadi 233.643.

Gubsu Tengku Erry Nuradi mengharapkan jumlah kunjungan wisman ini akan terus meningkat dan memenuhi target 1 juta wisman di tahun 2019. Menurutnya, Sektor Pariwisata adalah salah satu sektor potensial yang mendukung petumbuhan ekonomi di Sumatera Utara. Seperti kita ketahui bersama, bentang alam dan kekayaan budaya yang dimiliki Sumatera Utara menjadi potensi yang perlu untuk terus dikembangkan.

“Kita harapkan wisman akan semakin banyak, sehingga kita minta kabupaten-kota yang berada di Danau Toba harus bersinerji dan kompak, karena pemerintah pusat sudah sangat banyak perhatiannya kepada kita terutama untuk meningkatkan pembangunan Danau Toba,” ujar Erry.

Untuk mencapai target kunjungan wisatawan 1 juta orang ini, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut, Dr. Ir Hj Hidayati, MSi menyebutkan pihaknya terus berusaha untuk meningkatkan semua jenis pelayanan di sektor ini.

“Jumlah wisman di tahun 2017 sekitar 261.000 orang, di tahun 2019 nanti ditargetkan menjadi satu juta. Memang kunjungan turis dari mancanegara maupun domestic tidak meningkat signifikan. Namun, bila dibandingkan tahun lalu, peningkatannya itu sekitar 0,3 persen,” kata Hidayati saat ditemui di Museum Negeri Sumut.

Hidayati mengakui kurang berkembang pesatnya pariwisata kita saat ini dikarenakan belum maksimalnya tiga faktor, pertama amenitas, aksesibilitas dan atraksi. amenitas adalah segala fasilitas pendukung yang bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan wisatawan selama berada di destinasi.

Atraksi adalah produk utama sebuah destinasi yang berkaitan dengan “what to see” dan “what to do”. Artinya, apa yang bisa dilihat dan dilakukan oleh wisatawan di destinasi tersebut. Atraksi ini bisa berupa keindahan dan keunikan alam, budaya masyarakat setempat, peninggalan bangunan bersejarah, serta atraksi buatan seperti sarana permainan dan hiburan yang tentunya harus unik dan berbeda.

Terakhir, aksesibilitas adalah sarana dan infrastruktur untuk menuju destinasi seperti jalan raya, ketersediaan sarana transportasi, dan rambu-rambu penunjuk jalan dan lainnya. “Kalau kita lihat saat ini saja untuk amenitas di daerah wisata seperti fasilitas infrastruktur belum maksimal seperti toilet, paket wisata, kurang terintegrasinya Dinas Budaya dan Pariwisata dengan para stakeholder,” ujar Hidayati.

Lebih lanjut dikatakan Hidayati, saat ini Danau Toba memang masih menjadi andalan Sumatera Utara untuk pariwisata yang sudah ditetapkan menjadi Geopark Kaldera Toba (16  geosite). Begitu pun, Pantai Timur juga menarik bagi wisatawan. Contohnya seperti di Pantai Timur, ada Tangkahan di kabupaten Langkat, yang disebut-sebut dengan keindahan alam tersembunyi Sumut dan juga Nias yang menawarkan wisata pantai seperti diving dan surfing.

Di sisi lain, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut juga sedang mengalakkan tarian daerah, kuliner-kuliner tradisional dan penguatan kebudayaan yang ada. Dengan menguatkan bidang ini harapannya bisa memenuhi indikator peningkatan sektor Budaya dan Pariwisata.

“Ada 11 indikator di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, antara lain pertama tingkat kunjungan pariwisata juga peningkatan jumlah pengunjung museum, pemasaran, pemeliharaan dan tingkat penyediaan sarana dan prasarana untuk kesenian dan seniman,” terang Hidayati.

Selain wisata budaya, alam, bangunan saat ini yang juga sedang berkembang menurut Hidayati adalah Agritourism. Wisatawan baik dari dalam dan luar negeri cukup tertarik dengan wisata jenis ini, di mana mereka bisa mengetahui cara perawatan kopi, pengolahan hingga pengemasan. Untuk wisata jenis ini wisatawan juga bisa menikmati berbagai jenis buah-buahan dari berbagai daerah.

Kedepannya, diharapkan pemerintah dan Dinas Kebudayaan bisa bersinergi dan bekerja sama untuk sama-sama membangun budaya dan pariwisata karena sektor ini menjanjikan untuk membangun Sumatera Utara.

 

Perbaikan Infrastruktur Dorong Peningkatan Wisata

Insfrastruktur yang baik tentunya dapat mendorong peningkatan jumlah kunjungan wisawatan ke Sumut. Perhatian yang luar biasa dari pemerintah pusat sangat menguntungkan bagi Provinsi Sumut. Terutama dengan direalisasikannya pembangunan jalan tol dari Medan- Kualanmu dan dilanjutkan jalan tol Kualanamu- Tebing Tinggi.

Untuk selanjutnya akan terus dibangun jalan tol dari Tebing Tinggi hingga ke Parapat. Dengan begitu, maka wisatawan yang akan berkunjung ke Parapat dapat semakin dimudahkan. Tidak lagi terjebak kemacetan panjang dan dapat meringkas waktu tempuh ke lokasi wisata.

Selain jalan tol, saat ini Sumut juga sudah memiliki 8 Bandara yang melayani penerbangan diantaranya dua bandara bertaraf internasional yaitu Kualanamu Internasional Airport di Deliserdang dan Bandara Silangit di Tapanuli Utara. Tentunya, dengan adanya penerbangan-penerbangan langsung dari luar negeri akan semakin memudahkan pelancong dari luar mengunjungi Sumut.

“Dua bandara ini bisa di akses dari Singapura dan Kuala Lumpur dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam penerbangan,’’ ucap Gubsu.

Di sisi lain, target satu juta wisatawan di Provinsi Sumatera Utara tentunya harus didukung transportasi yang memadai, salah satunya jalur transportasi kereta api. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut, Hidayati mengharapkan adanya akses kereta api yang melayani satu geosite ke geosite lainnya yang ada di Geopark Danau Toba.

“Kalau masing-masing geosite di Geopark Danau Toba ini terhubung dengan Kereta Api, tentu untuk mengelilingi Danau Toba itu tidak memakan waktu terlalu lama,” terang Hidayati.

 

Jalin Kerjasama Luar Negeri 

Sebagai upaya untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Sumut, Gubsu Tengku Erry Nuradi juga berupaya mengenalkan potensi Sumut kepada dunia luar. Seperti melakukan perhelatan ke berbagai negara yang bertujuan untuk mempromosikan Sumatera Utara.

Di awal tahun 2018 ini, Gubsu telah membuka pameran Tour Operator Utazas di Paviliun Indonesia di Hong Expo Budapest dikenal Utazas Travel Exhibition 2018 Hongaria (Hungaria), Kamis (1/3/2018).

Pameran ini merupakan even tahunan yang di selenggarakan di Budapest dan difasilitasi oleh KBRI di Hongaria. Pameran wisata tahunan ini diikuti oleh ratusan tour operator dari Eropa, Asia dan Amerika.

Masih dalam kesempatan di Hongaria, Gubsu juga berkesampatan menghadiri jamuan makan malam yang digelar Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia (Dubes LB dan BP RI) untuk Slovakia Adiyatwidi Adiwoso di Rest Indonesia di Bratislava, Jumat malam (2/3). Dalam pertemuan tersebut, Gubsu Erry Nuradi mengajak Dubes LB dan BP RI untuk Slovakia Adiyatwidi untuk mempromosikan pariwisata Sumatera Utara (Sumut). Terutama mempromosikan Danau Toba dan potensi wisata lainnya di Sumut.

Selain itu, Gubsu juga melakukan perhelatan ke Australia, terutama di negara bagian Victoria untuk bertemu sejumlah pejabat dan pengusaha guna menjajaki kerjasama. Kunjungan yang dilakukan Kamis (15/3) untuk menarik minat investor di Negeri Kanguru menanamkan modalnya di Sumatera Utara (Sumut) termasuk menarik wisatawan berkunjung ke Sumut.

Dalam promosi Sumut di Australia tersebut, Gubsu Erry Nuradi sebelumnya bertemu Konjen RI di Melbourne, ibukota negara bagian Victoria, Australia, Spica Alphanya Tutuhatunewa. Selain itu, bertemu dengan President Legislative Council of Victoria, The Hon Bruce Atkinson di gedung Parliament House, East Melbourne, Victoria, Australia. Jalinan kerjasama yang terbangun ini pun diharapkan dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Sumut.

Daerah Diminta Tingkatkan Daya Saing

Pengamat pariwisata di Sumut yang juga Direktur PT Lovely Holidays Tour and Travel, Maruli Damanik mengatakan untuk kemajuan pariwisata Sumut, maka sudah saatnya daerah yang memiliki objek wisata di Sumut bangun dari tidurnya sehingga kunjungan wisman ke Sumut bisa meningkat, dan memang seharusnya setiap daerah bersaing untuk mempromosikan objek wisata yang dimiliki.

“Daerah harus menyadari kalau pariwisata itu memiliki multi effect yang luar biasa karena bisa diandalkan untuk mendongkrak perekonomian dan PAD, selama ini daerah yang memiliki objek wisata masih belum memanfaatkan peluang ini, sehingga Sumut mengalami keterpurukan wisata karena selama ini tidak menonjolkan potensi yang ada,” terang Maruli.

Dikatakannya, jika daerah berlomba-lomba untuk mengemas objek wisata yang dimilikinya tentu para pelaku pariwisata di Sumut akan sangat senang dan dengan mudah akan menarik wisatawan untuk berkunjung ke objek wisata yang ada. “Kita bisa melihat Bali, semua objek wisata di sana itu saling berlomba-lomba untuk menarik hati wisatawan, bahkan setiap sudut wisata di sana itu bisa diandalkan, “ terangnya.

Oleh karena itulah, sudah saat nya Sumut mulai mengangkat astmosfer-atmosfer pariwisata yang ada. Objek wisata yang ada harus benar-benar dijaga dan diurus, juga dipromosikan dengan baik, sehingga wisatawan dapat datang ke Sumut. “Apalagi Sumut ini boleh dikatakan seperti surganya dunia, semua ada di sini, mulai dari sungai, pantai, eco tourism, kuliner hingga gunung. Tapi karena daerah yang memiliki objek wisatanya belum menggalinya sehingga keberadaan objek wisata yang luar biasa itu tidak dapat dilihat oleh mata dunia,” paparnya.

Selama ini lanjut Maruli, wisatawan yang pernah datang ke Sumut akan merasa bosan untuk kembali lagi berkunjung selanjutnya. Sebab yang mereka lihat dari Sumut hanya objek wisata yang sama misalnya Danau Toba maupun Brastagi. Padahal kalau semua potensi objek wisata yang ada dapat dikemas baik, lamanya wisatawan berkunjung ke Sumut itu bisa sampai satu tahun, karena dia dapat berkunjung ke Bukit Lawang, setelah itu ke Nias, setelah itu ke Taput dan daerah lainnya. “Kalau seluruh objek wisata kita dikemas baik, dalam waktu satu tahun mungkin belum habis untuk menjelajahinya,” terangnya.

Makanya masing-masing objek wisata saat ini harus berlomba, memetakan apa yang menjadi daya tarik dari daerahnya dan keunggulan dari objek wisata yang dimiliki. Sebab, masing-masing daerah di Sumut sebenarnya sudah memiliki potensi pariwisata yang berbeda-beda.

Jika masing-masing daerah itu berkemas untuk mempromosikan objek wisata yang dimilikinya  tentu akan semakin banyak berdiri industri pariwisata di Sumut, inilah yang menjadi multi effect dari pariwisata. Semakin banyak bermunculan hotel, restoran, transportasi dan lainnya yang dampaknya juga dapat menyerap tenaga kerja.

Daerah di Sumut, lanjut Maruli bisa meniru Belitung Timur yang mengemas wisata Kedai 1000 kopi. Cukup hanya mengemas kedai-kedai kopi, pemerintah daerahnya mampu menyedot wisatawan untuk datang berkunjung. Sumut tentu saja dapat berkemas dengan menggali objek wisata yang dimiliki karena semua potensi pariwisata ada di sini.

Di sisi lain, pemerintah juga diharapkan dapat segera memperbaiki infrastruktur, tidak hanya sekadar rencana tapi saatnya untuk action. “Seperti Tangkahan kalau infrastrukturnya baik, pasti wisatawan akan seperti semut yang mengerubunginya. Makanya, pemerintah sebenarnya harus merealisasikan pembangunan infrastrukturnya, kalau dibangun jalan aspal di sana, banyak wisatawan yang berkunjung tentu akan berdampak terhadap daerah Langkat sendiri yang semakin maju, kesadaran bahwa pariwisata itu memiliki multi effect ini perlu disadari,” jelasnya.(*)