Tim Pemprov Sumut yang dipimpin Sekdaprov Sumut R Sabrina berhasil membawa Mildah Situmorang dan 5 anaknya, yang sempat terlantar di Malaysia, pulang ke Sumut. Mereka tiba di Bandara Kualanamu, Deliserdang, Selasa (3/12) malam. Disambut petugas dari Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Sumut, petugas imigrasi, mewakili Pemkab Tebingtinggi dan Serdangbedagai, Kepala Disdukcapil Sumut Ismael P Sinaga, dan Kepala Dinas Sosial Sumut Rajali. (Foto Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprovsu : Veri Ardian)

DELISERDANG – Mildah Situmorang (45), yang hidup terlantar di Malaysia bersama 5 anaknya, berhasil dipulangkan oleh Tim Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) yang ditugaskan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi.

Bersama Tim Pemprov Sumut, Mildah dan anak-anaknya, telah tiba di Bandara Kualanamu, Deliserdang, Selasa (3/12) malam. Mereka disambut petugas dari Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Sumut, petugas imigrasi, mewakili Pemkab Tebingtinggi dan Serdangbedagai, Kepala Disdukcapil Sumut Ismael P Sinaga, dan Kepala Dinas Sosial Sumut Rajali.

Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumut R Sabrina selaku pemimpin tim pemulangan bersama Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Sumut Nurlela serta Kepala Bagian Humas Setdaprovsu M Ikhsan menceritakan kronologi pemulangan serta kondisi Mildah. Kata Sabrina, Mildah masih mengalami kebingungan yang menyebabkan sulit untuk menggali informasi.

“Alhamdulillah, kita telah berhasil membawa pulang saudara kita Mildah Situmorang dan kelima anaknya. Semua dalam kondisi sehat, hanya saja Mildah mungkin butuh waktu untuk bisa merincikan apa yang dialami selama di Kuching, Malaysia,” ujar Sabrina.

Untuk proses pemulangan berlangsung lancar. Pemprov Sumut dibantu KJRI Kuching, Malaysia, mulai dari mempersiapkan kelengkapan dokumen, membuatkan dokumen perjalanan berupa Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP), hingga melepas kepulangan. Tim membawa pulang via darat dari Kuching ke Pontianak, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan pesawat ke Sumut.

BACA JUGA  Zakat ASN Pemprov Sumut Terkumpul Rp5 Miliar

“Sudah tiba di sini, sekarang yang perlu kita pikirkan bersama adalah kelangsungan hidup saudara kita ini selanjutnya. Karena katanya, dia tidak punya siapa-siapa di Medan ini. Jadi kita semua di sini akan terus berkoordinasi untuk memastikan kelangsungan hidup mereka, jangan pulak kita bawa pulang setelah itu dibiarkan,” tutur Sabrina.

Hasil diskusi dan pembicaraan menyimpulkan untuk sementara Mildah Situmorang dan anaknya akan tinggal di Shelter milik BP3TKI di Medan, kemudian Dinsos akan memfasilitasi penyediaan psikolog untuk Mildah, tim dari Disdukcapil juga akan didatangkan untuk melakukan perekaman data untuk Mildah dan anak-anaknya, kemudin Pemkab Tebingtinggi akan mencari tahu keluarga Mildah yang mengaku pernah tinggal dan menempuh pendidikan di Tebingtinggi.

“Untuk sekolah anak-anaknya juga akan kita pikirkan. Tetapi kalau menurut Mildah, anak-anaknya diharapkan disekolahkan di pesantren. Nanti mungkin kita carikan yayasan piatu juga, karena memang ayah mereka sudah meninggal dan ibunya tidak punya pekerjaan, anak lima. Masih kita pikirkan dulu, mereka tenang dulu di shelter dan selanjutnya kita proses,” jelas Sabrina.

Kepala Disdukcapil Sumut Ismael P Sinaga menambahkan bahwa pihaknya akan membawa tim ke Shelter untuk melengkapi dokumen kependudukan Mildah dan anak. Selain kepemilikan identitas merupakan hak mereka, dengan kepemilikan identitas juga akan memudahkan mereka memperoleh akses pelayanan publik, untuk kesehatan, sekolah, dan lainnya

BACA JUGA  Sabrina : Penggunaan Gawai Secara Berlebihan Dapat Lemahkan Ketahanan Keluarga

“Jadi di sini, saya juga membawa Disdukcapil Tebingtinggi dan Disdukcapil Serdangbedagai. Karena menurut cerita yang kami dengar, tempat ia pernah tinggal dulu itu berada di sekitar perbatasan antara Tebingtinggi dan Sergai. Jadi, kedua pihak Pemda mencari tahu nanti,” katanya.

Diketahui, Mildah Situmorang (45) dan lima orang anaknya; Diana (9), Akbar (6), Murni (5), Linda (4) dan Puteri (2) sempat terlantar di hutan Batu Sembilan, Bintulu, Malaysia, sebelum dievakuasi staf KJRI Kuching dari tempat penampungan sementara di Bintulu.**