Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa Rajekshah menghadiri Peluncuran Buku Foto Bumi Karema Karya Ruthy Bambang Waskito atau kerap disapa Rose Kampoong di Flores Ballroom, Hotel Borobudur, Jalan Lapangan Benteng Selatan, Jakarta Pusat, Rabu Malam (27/3). Buku Foto Bumi Karema ini berisikan tentang keanekaragaman budaya Minahasa, keindahan pariwisata, flora dan fauna khas daerah Sulawesi Utara. (Foto : Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprovsu / Imam Syahputra)

JAKARTA– Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa Rajekshah mengagumi buku Bumi Karema yang ditulis oleh fotografer Ruthy Bambang Waskito atau dikenal Rose Kampoong. Buku yang berisi kumpulan foto yang menggambarkan keindahan Sulawesi Utara ini menjadi inspirasi Wagub Sumut lantaran dapat menjadi media informasi mengenai kekayaan alam dan budaya sehingga dapat mengangkat pariwisata daerah.

Hal itu diungkapkan Wagub Sumut saat menghadiri peluncuran buku Bumi Karema, di Hotel Borobudur, Jalan Lapangan Benteng Jakarta, Rabu malam (27/3).

“Kehadiran Buku Bumi Karema ini sangat membantu sebagai promosi daerah Sulawesi Utara (Minahasa) yang kaya akan flora dan fauna juga kebudayaannya. Melalui buku tersebut jelas akan menjadi panduan atau informasi bagi masyarakat khususnya Sulawesi Utara, maupun masyarakat nasional dan international,”jelasnya.

Apalagi kata dia, buku ini telah mendapat dukungan dari Pemprov Sulawesi Utara, selain menjadi bahan acuan untuk pariwisata, ke depannya juga buku ini akan menjadi salah satu materi pelajaran di sekolah.

“Hal- hal seperti inilah yang sangat positif diangkat sebagai promosi daerah, saya sempat mengajak Ruthy Bambang Waskito atau Rose Kampoong untuk datang ke Sumut ,karena hobbynya yang suka traveling dan masuk kampong tersebut, tentu beliau bisa menuangkan atau mengambarkan suatu tempat lengkap dengan keberagaman flora, fauna, keindahan alam dan lainnya dalam sebuah buku,” paparnya.

Apalagi, lanjut Wagub Sumut, Sumatera Utara kaya akan berbagai budaya dan adat istiadat yang dapat diangkat ke dalam sebuah buku. Tentu akan lebih banyak informasi yang bisa digali dan lebih menarik lagi, karena kekayaan Sumut tidak hanya dari alamnya tapi juga adat istiadatnya.

BACA JUGA  Kunjungan Wisatawan India ke Sumut Diharapkan Semakin Meningkat

“Bayangkan bisa salah satu etnis/ suku di Sumut dibuat asal usul dan kisahnya, pasti lebih menarik dan sangat layak untuk diketahui generasi dan pelajar Sumut, sehingga mereka bisa mengenal daerah dan kebudayaan daerah ini,”ujarnya.

Bila di Minahasa ada kisah Putri Karema sebagai putri pemberani dan lemah lembut, Sumut juga memiliki sosok putri yang sangat dikagumi seperti legenda Putri hijau atau Putri Titian Bulan sebagai nenek moyangnya para suku batak,

“Bila ini diangkat Saya yakin generasi atau pelajar di Sumut sangat menyukainya tentang keberadaan dan kekayaan khas daerah. Ini juga bisa menjadi muatan lokal pada mata pelajaran siswa di sekolah. Kita bisa mencontoh Pemprov Sulut yang akan menjadikan buku Bumi Karema menjadi salah satu buku pelajaran muatan lokal di sekolah, tujuannya agar generasi muda tetap mengetahui sejarah daerahnya,”paparnya.

Sementara Ruthy Bambang Waskito atau dikenal Rose Kampoong penulis buku Bumi Karema mengaku sangat kagum dengan Minahasa, berkat dukungan suaminya yang saat itu bertugas sebagai Kapolda Sulut, ibu dari tiga anak ini dapat berkeliling ke seluruh daerah di Sulawesi Utara untuk mengetahui kisah atau asal usul dari masing-masing daerah tersebut.

“Saya tertarik tak hanya kisah Putri Karema yang merupakan nenek moyang orang Minahasa juga kekayaan alam yang sangat indah, kehidupan masyarakat di sana senantiasa rukun dan saling menghormati,”ujarnya.

BACA JUGA  Wagub Sumut Dukung Rencana Penerapan Cashless pada Pelayanan Publik

Dikatakannya, buku Bumi Karema merupakan buku foto hasil karyanya dan beberapa kontributor foto yang berisi tentang budaya, adat istiadat, wisata religi dan pariwisata laut di Sulawesi Utara.

Menurut Ruthy, sebanyak 150 buah buku tersebut, nantinya akan disumbangkan untuk dunia pendidikan dan pariwisata di Indonesia.

Peluncuran buku tersebut dihadiri Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid dan dimeriahkan dengan tarian khas perang suku Minahasa, fashion show dengan berbagai karya busana yang telah dimodifikasi dengan kain – kain Minahasa. (*)