Asahan – Percepatan pembangunan dalam beberapa tahun belakangan memang jadi perbincangan hangat dibanyak kalangan. Namun masih banyak sisi yang kontras terhadap program pemerintah itu. Banyak masyarakat yang justru harus bekerja tanpa penghasilan yang memadai dan layak untuk hidup sejahtera.

Kondisi itu langsung disaksikan Wakil Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Brigjen (Purn) Dr Hj Nurhajizah Marpaung SH MH saat mendatangi sejumlah tempat, dimana ratusan warga di satu desa mengisi kegiatan sehari-hari sebagai buruh harian lepas bekerja mengupas kulit ari buah kelapa untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga, yang seluruhnya didominasi kaum perempuan.

Pemberdayaan perempuan, adalah kata kunci dari gelaran roadshow Wagubsu kedua daerah yakni Kabupaten Asahan dan Kota Tanjung Balai. Namun menurutnya, peran serta kaum ibu harus setimpal dengan apa yang diterima sebagai upah dari jerih payah, atau hampir dapat disebut, tulang punggung keluarga.

Kawasan Teluk Nibung di Tanjung Balai dan Air Joman di Asahan, menjadi titik kunjungan Wagubsu melihat kegiatan para perempuan mengupas kulit ari buah kelapa atau mereka sebut “mengoncek” dalam istilah warga setempat. Meskipun menjadi bagian dari pemberdayaan perempuan, namun bagi Nurhajizah, upah sebesar Rp250-Rp300,- per kilogramnya, sangat rendah untuk dapat dikatakan layak. Apalagi bekerja pagi hingga sore hari, mulai pukul 9.00-17.00, yang diterima hanya sekitar Rp.15.000 sampai Rp.25.000 per hari.

Adalah Ibu Itam (57), yang mengaku sudah menggeluti pekerjaan mengoncek selama delapan tahun di Desa Air Joman. Baginya, kegiatan tersebut untuk menambah penghasilan keluarga, karena sang suami yang juga bekerja sebagian buruh harian lepas, berpenghasilan pas-pasan. Meskipun harus menyiapkan sarapan dan makan untuk keluarga di pagi hari, ibu dari 9 orang anak ini, harus rela hanya menerima sekitar Rp.175.000,- per pekan yang diterima setiap Jumat.

“Ya biar ada tambahan aja pak. Anak saya perempuan pun ikut juga mengoncek,” ujar Ibu Itam saya dikunjungi Wagub, Rabu (7/3).

Dari pekerjaannya itu, dia dan kaum perempuan lainnya di desa itu berharap ada uluran tangan pemerintah memberikan kesempatan melakukan kegiatan yang bermanfaat untuk membantu kebutuhan keluarga. Sebab meskipun upah yang diterima terlalu murah, namun karena tidak ada pilihan lain, merekapun menerima tawaran untuk mengoncek. “Daripada kosong Bu Wagub, kalau begini kan ada kegiatan, nggak di rumah aja,” katanya.

Dari kegiatan itu, sekitar 50-an warga setempat mampu menghasilkan kupasan atau hasil koncek hingga 2-4 ton per hari. Itupun tergantung pada pasokan seperti dari kecamatan lain atau bahkan dari Sumatera Barat dan Aceh. Sebab hasilnya akan digunakan untuk pembuatan tepung santan. Sedangkan kulit arinya akan dimanfaatkan bagi produksi minyak goreng kelapa atau yang mereka lazim sebut minyak makan putih.

Dari kondisi itu, Wagubsu Nurhajizah mengaku bahwa tidak banyak kalimat yang bisa mewakili keprihatinannya terhadap kaum perempuan yang harus bekerja pagi-sore untuk menyambung hidup. Apalagi dengan upah murah, sudah seharusnya ada solusi yang bisa ditawarkan kepada masyarakat.

“Kita akan bicara dan cari perusahaan yang bisa bekerjasama, agar kalaupun mereka tetap bekerja sepeti ini, jangan terlalu murah dibayar. Saya bersama OPD Provsu akan mencari pengusaha yang mau membayar lebih dari ini, mungkin sampai Rp1.000,” ujar Wagubsu Nurhajizah Marpaung.

Selain itu, Nurhajizah juga mendorong bagaimana pemerintah baik provinsi, kabupaten hingga tingkat desa, bisa membuat kegiatan lain bagi masyarakat seperti bercocok tanam di halaman rumah. Dengan begitu, ada kesempatan bagi warga yang khususnya ekonomi menengah ke bawah, untuk berpenghasilan lebih baik dari sebelumnya.

“Kita rancang bagaimana tanaman hidroponik bisa berkembang di sini. Hasilnya nanti bisa mereka nikmati, bahkan bisa mereka olah sendiri dan di pasarkan. Apalagi kan ada dana desa juga, jadi sebenarnya semua bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat, khususnya untuk pemberdayaan perempuan,” jelas Wagub yang sehari sebelumnya juga mengunjungi lokasi kegiatan yang sama di Teluk Nibung, Tanjung Balai.