MEDAN – Setelah sebelumnya dikunjungi mantan personil Cherrybelle, Anisa Rahma bersama sang suami Anandito, hari ke-6 pameran Satu Abad Surat Kabar Sumatera Utara di Lobi Kantor Gubernur Sumut, pun lebih terasa istimewa, Senin (11/2), sebab ramai warga Padang Lawas yang berkunjung. Surat kabar Mandailing dan Orgaan Bataksche Studiefonds jadi fokus utama karena banyak tulisan di dalamnya diisi oleh cendikiawan bersuku Mandailing.

Kabupaten Padang Lawas sejatinya memang dikenal sebagai ‘Rumah’ dari suku bangsa Batak Angkola atau akrab dengan sebutan Mandailing. Suku Mandailing ini tersebar di berbagai daerah, para pengambil inisiatif pun menggunakan surat kabar sebagai salah satu alat komunikasi.

Pada masa itu, tahun 1922, mereka ingin menghimpun persatuan Mandailing, sebagai pengikat orang-orang Mandailing yang berada di perantauan. “Surat kabar ini juga punya peran ganda, selain alat untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme, juga sebagai alat untuk mengumpulkan orang Mandailing yang tersebar di berbagai daerah, iklan-iklan pun didominasi perusahaan yang pemiliknya bersuku Mandailing,” ucap Dr Phil Ichwan Azhari, Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan.

“Surat kabar Mandailing diorganisir oleh Serikat Mandailing, yang di produksi di Medan, Abdullah Lubis salah satu tokoh penggagasnya,” sambung Ichwan.

Sedikit berbeda, Orgaan Bataksche Studiefonds dicetak di Kotanopan tahun 1922, yang merupakan buletin pertama dan tertua di Indonesia, tak ubahnya sebuah harta karun dari kota kecil. “Terbit dua kali dalam sebulan, yang menarik adalah para penggagasnya masih menggunakan istilah Batak pada buletin yang terbit di Mandailing,” tambah ketua Rumah Sejarah Medan tersebut.

Kepala Bagian Hukum di Pemerintah Padang Lawas Agus Saleh Putra Daulay juga memberi apresiasi pameran yang digelar sejak 6 Februari 2019 itu. “Ini memberikan banyak informasi khususnya untuk masyarakat Sumatera Utara, Pameran ini juga seolah memberitahu kita bahwa surat kabar itu bisa tetap hidup dan mengikuti perkembangan zaman yang terus berubah. Sangat apresiasi dengan apa yang dibuat oleh Humas Sumut dengan Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial Universitas Medan,” ucap Agus.

Hardi Nasution, salah seorang warga Padang Lawas melihat sisi berbeda. ”Gubernur kita punya inisiatif buat acara seperti ini sangat bagus. Buat anak-anak milenial, agar mereka tahu bahwa Surat Kabar Sumatera Utara sudah berusia Satu Abad, jadi bisa tahu bagaimana perkembangan literasi,” ujarnya. *