Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi menghadiri Perayaan Natal Oikumene Umat Kristiani Sumatera Utara 2019, di GBI Tabernacle of David, Hotel JW Marriot, Jalan Putri Hijau Medan, Rabu (22/1) malam. Natal ini bertemakan "Hiduplah sebagai sahabat bagi semua orang".

MEDAN – Perbedaan atau keberagaman adalah anugerah yang harus dipandang sebagai kekuatan. Bukan sebaliknya dijadikan alat untuk menimbulkan gesekan dan pertikaian di tengah masyarakat. Apalagi perbedaan agama mudah dibenturkan. Padahal semua agama mengajarkan kebaikan.

Hal ini diungkapkan Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi saat menghadiri Perayaan Natal Oikumene Umat Kristiani Sumut 2019 di GBI Tabernacle of David, Hotel JW Marriot, Jalan Putri Hijau, Rabu (22/1) malam. Natal yang dihadiri 1.200 umat Kristiani tersebut mengangkat tema Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang.

“Saat pendidikan di Akmil, kami wajib mempelajari semua agama yang ada di Indonesia. Jadi saya paham itu dasar-dasarnya. Intinya semua agama mengajarkan kedamaian. Jadi jangan kita mudah terprovokasi dengan isu yang memecah-belah,” pesan Edy.

Sebaliknya harus fokus pada hal-hal yang mempersatukan dan mempererat rasa kesatuan. Seperti tema Perayaan Natal Oikumene, kata Edy, harus bisa bersahabat dengan semua orang tanpa membanding-bandingkan suku, agama dan perbedaan lainnya.

“Sebagai sesama masyarakat Sumut mari kita fokus melakukan hal-hal yang bisa membesarkan provinsi kita ini. Tentang perbedaan kita sudah lulus sejak dahulu. Masyarakat multi kultural hidup harmonis dan berdampingan, mari kita lanjutkan,” ujar Edy.

Ketua Forum Komunikasi dan Konsultasi Gereja-Gereja Sumut (FKKGSU) Bishop Darwis Manurung mengaku terharu dengan kedatangan Gubernur Edy yang turut meramaikan Perayaan Natal Oikumene Umat Kristiani Sumut Tahun 2019. Kehadiran Gubernur melengkapi suka cita umat Kristiani katanya.

“Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Gubernur. FKKGSU akan senantiasa mendukung pemerintah daerah, di gereja-gereja Pak Gubernur. Ada doa safaat dimana kami rutin mendoakan pemimpin-pemimpin di negeri ini termasuk Gubernur Sumut,” ungkap Darwis.

Sementara itu Ketua Yayasan Sumut Berdoa JA Ferdinandus menyampaikan hal senada dengan Gubernur Edy bahwa perbedaan adalah kekuatan yang harus dipelihara. Caranya, yakni dengan saling menghormati dan menghargai.

“Ibarat taman bunga, semakin beragam warnanya semakin indah dipandang. Itu lah indahnya perbedaan. Mari kita rawat persatuan dan perdamaian seperti firman Tuhan, di mana pun Tuhan menempatkan kita harus lah membawa kesejahteraan atau kedamaian,” ucapnya.

Acara diawali dengan mendengarkan khotbah, doa, sambutan dan makan bersama. Turut hadir Ketua Umum Panitia Natal Oikumene Umat Kristiani Sumut Tahun 2019  Pdt Samuel Gohzaly D, undangan yang terdiri dari perwakilan unsur Forkopimda, OPD Pemprov Sumut, para pendeta dan ribuan jemaah umat Kristiani.